Cacingan pada Kucing: Gejala, Penanganan, dan Cara Mencegah [2026]

Studi Yudhana dan Praja (2017) di Banyuwangi menemukan bahwa prevalensi Toxocara cati pada kucing liar mencapai 43,65%. Cacingan pada kucing bukan sekadar masalah perut — infeksi ini bisa menyebabkan anemia berat, stunting pada anak kucing, bahkan zoonosis ke manusia. BRIN juga tengah meneliti cacing gastrointestinal pada populasi kucing di Jabodetabek karena potensi penularan ke manusia yang cukup tinggi.

Poin Penting Sebelum Membaca:

  • Prevalensi Tinggi: Toxocara cati pada kucing liar di Indonesia bisa mencapai 43,65%.
  • 3 Jenis Utama: Cacing gelang (putih spageti), cacing pita (biji wijen), dan cacing tambang (penghisap darah).
  • Tanda Wajib Dokter: Darah dalam tinja, anemia berat (gusi pucat), atau stunting pada anak kucing.
  • Obat Utama: Drontal Cat (oral) atau Profender (tetes tengkuk).
  • Jadwal: Anak kucing mulai usia 2 minggu, dewasa rumahan tiap 3-6 bulan.

Apa Itu Cacingan pada Kucing?

Cacingan pada kucing itu infeksi parasit gastrointestinal yang akibat tiga kelompok cacing: gelang, pita, dan tambang. Parasit ini hidup di saluran pencernaan, menghisap nutrisi, dan pada kasus parah bisa merusak dinding usus secara permanen.

Kucing di Indonesia berisiko tinggi karena banyak yang diberi ikan mentah, gemar memangsa tikus atau burung, serta bersinggungan dengan populasi kucing liar. Menariknya, banyak kucing yang tampak sehat tetapi merupakan subclinical carrier — pembawa parasit yang tetap shedding telur di feses tanpa gejala yang terlihat.


3 Jenis Cacing Utama pada Kucing

Tiga jenis parasit ini paling sering ditemukan pada kucing di Indonesia. Mengenali perbedaannya membantu memilih obat yang tepat.

Jenis Cacing Spesies Dominan Penampilan Penularan
Cacing Gelang Toxocara cati, Toxascaris leonina Putih, panjang 8-17 cm, mirip spageti Tanah, telur di feses, atau lewat susu induk
Cacing Pita Dipylidium caninum, Taenia taeniaeformis Pipih, bersegmen, mirip biji wijen di area anus Menelan kutu yang membawa larva
Cacing Tambang Ancylostoma tubaeforme Kecil, melekat di dinding usus, menghisap darah Penetrasi kulit kaki atau menelan larva

Selain tiga jenis di atas, ada juga cacing hati dan cacing paru yang lebih jarang namun tetap relevan bagi kucing pemakan ikan air tawar mentah atau mangsa amphibi.


Gejala Klinis: Ringan vs Parah

Gejala cacingan bervariasi tergantung pada jumlah parasit dan jenis cacing yang menginfeksi.

Gejala Umum (Ringan-Sedang)

Pada infeksi ringan, gejala sering tidak kentara. Namun, ada tanda-tanda yang bisa kamu amati: diare yang kadang berlendir, muntah yang kadang mengeluarkan cacing dewasa, serta perut buncit pada anak kucing walau tubuhnya kurus. Kucing juga bisa menunjukkan bulu kusam, lesu, nafsu makan turun, dan berat badan susah naik.

Pada kasus cacing gelang, larva bermigrasi ke paru sehingga kucing mengalami batuk ringan. Anemia ringan juga bisa terjadi, ditandai dengan gusi yang tampak lebih pucat dari biasanya.

Gejala Parah — Wajib Langsung ke Dokter

Jika menemukan tanda-tanda berikut, bawa kucing ke dokter hewan tanpa menunggu: darah dalam tinja (merah segar atau hitam), anemia berat dengan gusi sangat pucat dan lemas, muntah terus-menerus disertai cacing, serta diare parah yang menyebabkan dehidrasi. Pada anak kucing, infeksi berat bisa menyebabkan stunting atau tubuh kerdil permanen.

Risiko terburuk meliputi sumbatan usus, ruptur dinding usus, hingga kerusakan organ yang berujung kematian. Jika menemukan gejala parah, segera ke dokter hewan — jangan tunda.


Cara Diagnosis

Diagnosis akurat penting agar obat yang diberikan tepat sasaran. Gold standar sebagai pemeriksaan feses dengan metode flotation mikroskopis untuk mendeteksi telur atau segmen cacing pita.

Dokter hewan juga bisa melakukan tes darah untuk mendeteksi anemia (penurunan RBC), eosinofilia, atau hipoalbuminemia. Inspeksi visual oleh pemilik sering menjadi petunjuk awal — melihat cacing utuh dalam muntah atau butiran kecil mirip beras di sekitar anus.

Widya dari The Vets dalam Kompas Homey (Mei 2025) menyebutkan bahwa dari menganalisis sampel feses dapat diketahui jenis cacing dan pengobatan yang tepat. Kucing tanpa gejala pun perlu pemeriksaan rutin karena banyak kasus carrier subklinis.


Penanganan: Obat Cacing Utama

Penanganan cacingan menggunakan obat antiparasit yang membunuh cacing dewasa di saluran pencernaan.

Obat Oral (Tablet/Sirup)

Drontal Cat merupakan salah satu obat paling populer di Indonesia. Setiap tablet mengandung 20 mg praziquantel dan 230 mg pyrantel embonate, kombinasi yang manjur untuk cacing gelang, pita, dan tambang. Untuk kasus stubborn atau infeksi cacing hati, dokter bisa meresepkan Fenbendazole.

Obat Spot-On (Tetes Tengkuk)

Profender menjadi alternatif bagi kucing yang agresif atau sering memuntahkan obat oral. Obat ini berupa tetes tengkuk dengan kandungan emodepside dan praziquantel yang meresap melalui kulit.

Mengapa Obat Bisa Gagal?

Banyak pemilik mengeluh kucing masih cacingan setelah diberi obat. Penyebab tersering: obat tidak membunuh larva dormant di jaringan tubuh, dosis tidak sesuai berat kucing, atau jenis obat tidak cocok dengan jenis cacing (misalnya cacing pita butuh praziquantel). Itulah mengapa dosis perlu diulang 2-3 minggu setelah dosis pertama — untuk menangkap larva yang baru menetas.


Jadwal Deworming yang Tepat

Pemberian obat cacing harus mengikuti jadwal konsisten agar siklus hidup parasit terputus.

  • Anak Kucing: Mulai usia 2, 4, 6, dan 8 minggu, lalu setiap bulan sampai usia 6 bulan.
  • Kucing Dewasa Rumahan: Setiap 3-6 bulan sekali.
  • Kucing Akses Luar/Berburu/Makan Mentah: Setiap 1-3 bulan.
  • Induk Hamil: Konsultasi dokter hewan; Fenbendazole kadang diberikan pada hari tertentu.

Lakukan recheck feses 2-4 minggu setelah pengobatan untuk memastikan semua parasit sudah terbasmi.


Pencegahan

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Berikut langkah-langkah yang bisa kamu terapkan:

  • Higiene Litter Box: Bersihkan kotak pasir setiap hari dan lakukan sanitasi menyeluruh setiap minggu.
  • Kontrol Kutu: Beri obat kutu secara rutin — kutu adalah pembawa utama larva cacing pita Dipylidium.
  • Hindari Daging Mentah: Masak makanan kucing dengan sempurna untuk membunuh larva parasit.
  • Cegah Berburu: Kucing rumahan yang jarang keluar memiliki risiko jauh lebih rendah.
  • Bersihkan Sepatu dan Lantai: Telur cacing bisa terbawa dari luar rumah.

Zoonosis: Apakah Menular ke Manusia?

Beberapa jenis cacing pada kucing bisa menular ke manusia melalui kontak langsung.

Toxocara cati bisa menyebabkan larva migrans viseral dan okuler, terutama pada anak-anak yang sering bermain di tanah. Ancylostoma menyebabkan cutaneous larva migrans — ruam gatal pada kulit kaki. Penularan Dipylidium caninum sangat jarang dan biasanya hanya lewat ingesti kutu secara tidak sengaja.

Untuk mencegah penularan, cuci tangan setelah memegang kucing, gunakan sarung tangan saat membersihkan litter box, dan pastikan anak-anak tidak bermain di area yang terkontaminasi kotoran kucing. Kucing positif cacingan bukan berarti harus direhoming — dengan hygiene yang tepat, risiko zoonosis bisa ditekan secara signifikan.


Kapan Harus ke Dokter Hewan?

Bawa kucing ke dokter hewan jika menemukan gejala parah: darah dalam tinja, anemia berat, atau diare parah yang menyebabkan lemas. Dokter juga diperlukan untuk kucing usia di bawah 6 minggu, kucing hamil atau menyusui, infeksi campuran dari beberapa jenis cacing, atau jika pengobatan gagal setelah dua siklus lengkap.


FAQ

Ciri-ciri kucing cacingan?
Perut buncit pada anak kucing, muntah cacing, diare, bulu kusam, dan gusi pucat adalah tanda-tanda umum.

Apakah bisa sembuh total?
Bisa, asalkan obat diberikan sesuai dosis dan jadwal, serta faktor lingkungan seperti kutu juga dikendalikan.

Obat cacing kucing paling manjur?
Drontal Cat itu salah satu yang paling banyak direkomendasikan dokter hewan di Indonesia untuk berbagai jenis cacing.

Berapa bulan sekali?
Kucing dewasa rumahan tiap 3-6 bulan, kucing luar atau berburu tiap 1-3 bulan.

Bisul menular ke manusia?
Ya, beberapa jenis cacing seperti Toxocara cati dan Ancylostoma bersifat zoonosis. Cuci tangan dan hindari kontak langsung dengan kotoran kucing.

Kucing hamil boleh diberi obat?
Bisa, tetapi harus konsultasi dokter hewan terlebih dahulu untuk menentukan jenis obat dan waktu pemberian yang aman.

Bawang putih — manjur atau berbahaya?
Bawang putih sangat berbahaya bagi kucing karena bisa menyebabkan anemia hemolitik. Jangan gunakan sebagai obat cacing.


Pelajari juga panduan kami tentang risiko kesehatan kucing indoor vs outdoor untuk memahami bagaimana lingkungan memengaruhi kesehatan anabul kamu.

Untuk jadwal preventif lainnya, baca artikel kami tentang jadwal vaksinasi kucing dewasa dan penyebab diare pada kucing yang sering dikaitkan dengan infeksi parasit.

Share your love
Pakan Pabrik
Pakan Pabrik

Pakanpabrik.com hadir guna memenuhi kebutuhan informasi seputar pakan ternak [unggas, akuakultur, swine, ruminansia dan petfood].
Dengan segmen yang sangat khusus dan spesifik, pakanpabrik.com menyajikan serba-serbi industri pakan ternak dan hewan kesayangan Anda.

Articles: 497