Tambak 1.000 m2 tebar 150 ekor per m2 seharusnya panen 1,8-2,0 ton pada SR 80% dan size 50 ekor per kg, tapi jika SR melorot ke 55%, panen hanya 1,2 ton dan modal pakan Rp 35-40 juta tidak tertutup. Selisih SR 10% pada skala intensif berarti selisih pendapatan Rp 15-25 juta per siklus. Karena itu memahami survival rate udang vaname per fase bukan sekadar angka laporan, melainkan alat untuk memutuskan kapan harus koreksi pakan, kapan parsial panen, dan kapan bertahan hingga panen total.
Apa Itu Survival Rate dan Kenapa Jadi Patokan Utama Panen
Survival rate adalah persentase udang yang hidup dari jumlah tebar awal hingga waktu hitung. Rumusnya sederhana: SR = (populasi hidup saat ini / jumlah tebar awal) x 100%. Jika tebar 150.000 ekor dan sampling menunjukkan populasi 120.000 ekor pada DOC 45, SR adalah 80%.
SR menentukan tiga hal sekaligus. Pertama, proyeksi tonase panen: biomassa = populasi hidup x bobot rata-rata. Kedua, kebutuhan pakan harian yang dihitung dari biomassa, bukan tebar awal. Ketiga, arus kas: jika SR turun 15% di DOC 30, proyeksi panen turun 300-400 kg dan jadwal pakan harus segera dikoreksi agar FCR tidak jebol.
Banyak petambak hanya menghitung SR saat panen, padahal SR mingguan jauh lebih berguna. SR yang turun bertahap 2-3% per minggu masih wajar karena seleksi alam dan molting, tapi penurunan mendadak 5-10% dalam 3 hari selalu ada penyebab yang harus dicari dalam 24 jam.
Tanpa pemantauan SR per fase, keputusan panen hanya berdasarkan feeling dan ukuran sampel. Dengan SR mingguan, Anda tahu persis apakah tambak masih layak dipertahankan atau lebih aman parsial panen untuk selamatkan modal.
Target SR per Fase dari Nursery hingga Panen
Fase nauplius ke PL 8-12 biasanya SR 40-60% di hatchery, tapi ini di luar kendali petambak pembesaran. Yang relevan dimulai dari PL 8-12 ke tebar tambak. Target SR PL saat aklimatisasi dan 7 hari pertama adalah 85-95% jika benur vaname kualitas baik dan aklimatisasi benar. Di bawah 80% pada minggu pertama, sumber benur atau proses aklimatisasi perlu diaudit.
DOC 1-30 adalah fase paling rawan. Target SR 80-90% pada DOC 30 dianggap baik untuk padat tebar 100-150 ekor per m2. Pada DOC 31-60, SR ideal 75-85%, dan pada DOC 61 hingga panen DOC 90-110, SR akhir 70-85% masih tergolong berhasil untuk sistem intensif. Tambak tradisional dengan padat tebar 20-30 ekor per m2 biasanya SR akhir lebih tinggi 85-95% karena beban lingkungan lebih ringan.
Contoh proyeksi: tebar 100.000 ekor, SR DOC 30 tercatat 85% (85.000 ekor hidup, bobot 3 gram, biomassa 255 kg). Jika SR turun ke 75% pada DOC 60 dengan bobot 10 gram, biomassa 750 kg. Jika bertahan 75% hingga panen size 20 gram, panen 1.500 kg. Jika SR akhir hanya 60%, panen 1.200 kg, selisih 300 kg atau sekitar Rp 18-24 juta pada harga Rp 60.000-80.000 per kg.
Patokan ini bukan angka mati. Tambak dengan kincir cukup, pakan terkontrol, dan manajemen kualitas air tambak udang yang disiplin sering mencapai SR 85% hingga panen. Tambak dengan pergantian air minim dan pakan berlebih biasanya SR akhir 55-65%. Bandingkan SR aktual Anda dengan rentang ini tiap minggu untuk putuskan strategi.
Faktor yang Paling Sering Menurunkan SR di Lapangan
Faktor pertama adalah kualitas benur. Benur dengan hepatopankreas pucat, usus putus-putus, atau berenang tidak aktif sejak tebar biasanya SR minggu pertama langsung 70-75%. Uji benur sebelum tebar dengan uji stres formalin 100 ppm 30 menit, benur sehat SR uji di atas 90%.
Faktor kedua adalah kualitas air. Amonia di atas 0,5 mg/L, nitrit di atas 1 mg/L, atau DO malam di bawah 3,5 mg/L selama 3 hari berturut-turut menurunkan SR 5-10% per minggu. Udang vaname butuh salinitas 15-25 ppt, pH 7,5-8,5, dan suhu 28-31 derajat yang stabil. Fluktuasi pH harian lebih dari 0,5 adalah sinyal bahaya.
Faktor ketiga adalah manajemen pakan. Overfeeding 10-15% selama seminggu meningkatkan bahan organik dasar tambak, memicu vibrio dan EHP. Underfeeding juga menurunkan SR karena kanibalisme saat molting. Program pakan berbasis anco dengan cek 4 kali sehari lebih akurat daripada takaran tetap.
Faktor keempat adalah penyakit. EHP, WSSV, dan vibriosis adalah penyebab penurunan SR mendadak paling sering. Jika SR turun 10% dalam 2-3 hari disertai usus kosong dan hepatopankreas pucat, segera cek EHP dan vibrio. Penjelasan penyakit dan tanda awal ada pada deteksi dini penyakit udang dan penyakit udang 9 jenis.

Cara Menghitung dan Memantau SR Tanpa Harus Keringkan Tambak
Metode paling umum adalah sampling anco. Pasang 4 anco per 1.000 m2, beri pakan 1-2% dari dosis di anco, dan hitung udang yang datang dalam 1-2 jam. Jika anco 1 m2 menarik 80-100 ekor pada DOC 45 dengan padat tebar 100 ekor per m2, populasi masih sesuai target. Jika hanya 40-50 ekor, ada indikasi SR turun.
Metode kedua adalah jala lempar sampling. Lempar jala 5-6 kali di titik berbeda, hitung rata-rata ekor per lemparan, lalu ekstrapolasi dengan luas tambak. Metode ini lebih acak namun butuh pengalaman agar tidak bias di area pakan saja.
Catat SR mingguan dalam tabel sederhana: DOC, bobot rata-rata, populasi estimasi, biomassa, pakan harian, dan FCR. Dari tabel ini terlihat tren: SR turun pelan masih wajar, turun tajam butuh tindakan. Jangan hanya catat total pakan masuk tanpa hubungkan dengan estimasi populasi.
Mantri tambak senior biasanya cek anco tiap 2 jam pada DOC 1-15 dengan program blind feeding, lalu beralih ke cek anco terkontrol 4 kali sehari setelah DOC 15. Konsistensi jam cek lebih penting daripada akurasi absolut, karena yang dicari adalah tren penurunan.
Strategi Menjaga SR Tetap di Atas 80% Hingga Panen
Langkah pertama adalah aklimatisasi yang benar. Samakan suhu dengan apungkan kantong 20-30 menit, lalu buka dan campur air tambak sedikit demi sedikit selama 30-45 menit. Salinitas kantong dan tambak sebaiknya selisih tidak lebih dari 5 ppt. Tebar sore hari saat suhu stabil, bukan siang terik.
Langkah kedua adalah program pakan terkontrol. DOC 1-15 pakai blind feeding 3-5% biomassa dibagi 4-5 kali, DOC 15-30 turun ke 3-4% dengan cek anco 2 jam, DOC 30 ke atas 2-3% dengan cek anco 1-1,5 jam. Sisa pakan di anco lebih dari 10% berarti dosis kebanyakan, kosong dalam 30 menit berarti kurang.
Langkah ketiga adalah probiotik dan manajemen dasar tambak. Aplikasi probiotik Bacillus tiap 5-7 hari membantu menekan vibrio dan menjaga bahan organik tidak menumpuk. Sipon dasar tiap 10-15 hari pada sistem intensif membuang lumpur dan sisa pakan yang menjadi sumber penyakit.
Langkah keempat adalah biosekuriti. Filter air masuk 100 mikron, desinfeksi peralatan antar petak, dan karantina benur 1-2 hari di tandon sebelum tebar. Jika satu petak SR turun mendadak dan terindikasi WSSV, jangan pindah peralatan ke petak lain tanpa desinfeksi. Keputusan panen lebih awal pada 1 petak sering menyelamatkan 3 petak lainnya.
Mulai siklus berikutnya, targetkan SR 85% pada DOC 30 sebagai checkpoint. Jika tercapai, peluang SR akhir 80% sangat besar. Jika DOC 30 sudah di bawah 75%, audit benur, air, dan pakan sebelum lanjutkan siklus yang sama.








