Rasio C/N optimal untuk tambak udang vaname adalah 15-20. Pada rentang ini bakteri heterotrof mengubah amonia beracun menjadi biomassa yang justru dimakan udang. Pakan udang biasa hanya punya rasio 8-10, sehingga tambahan sumber karbon hampir selalu diperlukan.
Amonia di atas 0,2 ppm membuat udang stres, nafsu makan turun, dan rentan vibrio. Mengatur rasio C/N adalah cara termurah mencegah amonia menumpuk, jauh lebih murah daripada mengganti air besar-besaran setiap hari.
Berapa Rasio C/N yang Ideal untuk Tambak Udang
Pakan udang berkadar protein 30-38% melepas nitrogen dalam jumlah besar ke air sebagai sisa pakan dan kotoran. Tanpa karbon tambahan, bakteri nitrifikasi bekerja lambat dan amonia udang menumpuk hingga level berbahaya dalam hitungan hari.
Target praktisnya jaga rasio C/N air tambak di 15-20. Artinya setiap 1 gram nitrogen butuh 15-20 gram karbon tersedia. Pakan 1 kg berprotein 35% mengandung sekitar 56 gram nitrogen, sehingga butuh tambahan karbon 700-900 gram per kg pakan yang diberikan.
Sistem bioflok menargetkan C/N 15-20 secara agresif dengan penambahan karbon harian. Sistem intensif konvensional cukup menjaga 12-15 dengan suplementasi 2-3 kali seminggu. Tambak tradisional umumnya tidak perlu mengatur C/N karena kepadatan rendah.
Cara Kerja Bakteri Heterotrof Mengolah Amonia
Bakteri heterotrof membangun sel tubuhnya dari karbon dan nitrogen dengan perbandingan sekitar 5:1 di dalam sel. Untuk menyerap 1 gram nitrogen dari amonia, bakteri butuh sekitar 15-20 gram karbon karena sebagian karbon dibakar sebagai energi.
Ketika karbon cukup, bakteri menyedot NH3 dari air dan mengubahnya menjadi protein sel dalam 4-8 jam. Gumpalan bakteri ini membentuk flok yang dimakan udang sebagai pakan tambahan berprotein 30-40%. Amonia hilang, udang dapat pakan gratis.
Ketika karbon kurang, bakteri tidak mampu menyerap nitrogen dan amonia bebas menumpuk. Inilah yang terjadi di tambak yang diberi pakan tinggi protein tanpa suplementasi karbon: air jernih tetapi NH3 0,5 ppm, udang mati pelan-pelan tanpa gejala jelas.
Cara Menghitung dan Menambah Sumber Karbon
Molase adalah sumber karbon termurah dan tercepat diserap bakteri. Kandungan karbon molase sekitar 40%, sehingga setiap 1 kg pakan berprotein 35% butuh sekitar 1,5-2 kg molase untuk mencapai C/N 15. Dosis harian dibagi mengikuti jadwal pemberian pakan.
kualitas air tambak harus dipantau saat suplementasi dimulai karena blooming bakteri mengonsumsi oksigen. Nyalakan kincir penuh selama 3 hari pertama penambahan molase. Jika DO turun di bawah 4 ppm, kurangi dosis karbon separuh.
Alternatif molase adalah tepung tapioka atau dedak halus dengan kandungan karbon 35-40%. Larutkan dulu dalam air tambak sebelum ditebar merata. Pemberian terbaik sore hari pukul 15.00-16.00 agar bakteri aktif mengolah sepanjang malam saat amonia memuncak.
Tanda Rasio C/N Tidak Seimbang
Amonia bertahan di atas 0,3 ppm padahal pakan sudah dikurangi menandakan karbon kurang. Air cenderung jernih kehijauan tanpa flok. Tambahkan molase 10-15 ppm dan ukur ulang NH3 setelah 3 hari.
Air keruh pekat kecokelatan disertai DO anjlok di bawah 3 ppm menandakan karbon berlebih. Bakteri blooming menguras oksigen. Hentikan suplementasi karbon 2-3 hari, naikkan aerasi, dan ganti air 10-15%.
Busa berlebihan di permukaan dan bau menyengat menandakan penumpukan bahan organik yang tidak terolah. Kurangi pakan 30%, hentikan karbon, dan siphon dasar tambak. Mulai ulang suplementasi dengan dosis separuh setelah air normal.
Mengintegrasikan C/N dengan Manajemen Air Harian
Masukkan cek amonia ke rutinitas pagi dua kali seminggu. Jika NH3 di atas 0,2 ppm, jadwalkan penambahan molase sore harinya. Jika di bawah 0,1 ppm, pertahankan dosis berjalan tanpa perubahan.
Catat jumlah pakan harian dan jumlah molase yang diberikan dalam satu buku. Evaluasi tiap dua minggu: FCR turun dan SR naik berarti strategi C/N bekerja. FCR stagnan berarti dosis atau timing perlu dikoreksi.
Konsultasikan dengan teknisi lapangan jika amonia tidak turun setelah dua minggu suplementasi disiplin. Bisa jadi masalahnya bukan C/N melainkan dasar tambak yang kotor atau kepadatan yang sudah melampaui daya dukung.







