Hemat Listrik dengan Sensor Kinetik di Tambak Udang

Penerapan teknologi di tambak udang semakin berkembang. Mulai dari digitalisasi pencatatan/ recording budidaya, penggunaan sensor untuk pengukuran parameter kualitas air, penggunaan mesin autofeeder, hingga teknologi lainnya yang bertujuan untuk efisiensi biaya dan meningkatkan hasil panen.

Bagi Kevin Ariza, petambak generasi kedua di Jerowaru, Lombok, pesatnya perkembangan teknologi di tambak udang sangat menarik terutama bagi dirinya yang termasuk dalam golongan petambak milenial. Walaupun dalam prakteknya, tidak semua yang berbau teknologi Ia terapkan di tambaknya.

Menurut pria kelahiran Surabaya ini, dirinya banyak membaca dan belajar hingga bisa memutuskan apa yang perlu diubah dan apa yang dapat tetap dipertahankan dari sistem budidaya udang yang sudah dijalankan orang tuanya dahulu. 

Dalam penerapan teknologi di tambaknya, Kevin fokus pada cost efficiency. Sesuai dengan prinsipnya, modal kecil untung besar, Ia berharap teknologi yang diterapkannya bisa membantu mengefisienkan cost produksi di tambak udang, salahsatunya biaya listrik.

Sensor Kinetik Tambak Udang

Listrik menjadi salahsatu komponen biaya produksi yang cukup tinggi dan kebutuhannya sangat krusial pada budidaya tambak udang. Sebagai sumber energi yang berfungsi menggerakkan alat-alat di tambak, pasokan listrik harus tercukupi baik itu bersumber dari PLN maupun genset.

Kevin yang memiliki background pendidikan mekanik elektronik/ sensor dari Jerman ini mencoba membuat sebuah teknologi yang disebutnya sensor kinetik guna menghemat biaya listrik di tambak dan ternyata hasilnya sangat signifikan.

Kepada PakanPabrik.com Kevin menjelaskan mekanisme sensor kinetik yang dibuatnya secara singkat, yaitu fokus pada dinamo/ rotor dari kincir-kincir yang digunakan di tambak.

Ia membuat sensor yang bisa memberi tanda jika dinamo/ rotor kincir tambak udang sudah melewati 1,3 Ampere maka harus segera diangkat dan diservis. “Jadi di atas dinamo/ rotor kincir ada sensor yang ada lampunya berwarna merah dan akan menyala jika konsumsi listrik kincir sudah melewati 1,3 Ampere. Itu tandanya harus segera diservis dinamonya agar tidak mengkonsumsi listrik terlalu besar dan menyebabkan biaya listrik membengkak. Sifatnya lebih ke indikator jika lampu sudah menyala berarti konsumsi listrik dari kincir sudah tinggi, sebaiknya dinamo/ rotornya diservis dulu,” urainya.

Dengan basic ilmunya, Kevin mengklaim cara membuat sensornya cukup mudah. Pertama Ia menyiapkan komponen alat-alatnya yang terdiri dari panel indikator dan alat sensor standar yang disambungkan ke kontaktor teknis dan diberi limiter 1,3 Ampere. “Alat ini berfungsi mencegah over limit yang bisa menyebabkan dinamo terbakar dan bisa menyebabkan konsumsi listrik lebih besar lagi. Karena yang mahal adalah detik-detik sebelum terbakar ini, “ jelas Kevin.

Sensor Kinetik Tambak Udang

Listrik menjadi salahsatu komponen biaya produksi yang cukup tinggi dan kebutuhannya sangat krusial pada budidaya tambak udang. Sebagai sumber energi yang berfungsi menggerakkan alat-alat di tambak, pasokan listrik harus tercukupi baik itu bersumber dari PLN maupun genset bioremediasi percepat masa kering kolam tambak.

Kevin yang memiliki background pendidikan mekanik elektronik/ sensor dari Jerman ini mencoba membuat sebuah teknologi yang disebutnya sensor kinetik guna menghemat biaya listrik di tambak dan ternyata hasilnya sangat signifikan.

Kepada PakanPabrik.com Kevin menjelaskan mekanisme sensor kinetik yang dibuatnya secara singkat, yaitu fokus pada dinamo/ rotor dari kincir-kincir yang digunakan di tambak.

Ia membuat sensor yang bisa memberi tanda jika dinamo/ rotor kincir tambak udang sudah melewati 1,3 Ampere maka harus segera diangkat dan diservis. “Jadi di atas dinamo/ rotor kincir ada sensor yang ada lampunya berwarna merah dan akan menyala jika konsumsi listrik kincir sudah melewati 1,3 Ampere. Itu tandanya harus segera diservis dinamonya agar tidak mengkonsumsi listrik terlalu besar dan menyebabkan biaya listrik membengkak. Sifatnya lebih ke indikator jika lampu sudah menyala berarti konsumsi listrik dari kincir sudah tinggi, sebaiknya dinamo/ rotornya diservis dulu,” urainya.

Dengan basic ilmunya, Kevin mengklaim cara membuat sensornya cukup mudah. Pertama Ia menyiapkan komponen alat-alatnya yang terdiri dari panel indikator dan alat sensor standar yang disambungkan ke kontaktor teknis dan diberi limiter 1,3 Ampere. “Alat ini berfungsi mencegah over limit yang bisa menyebabkan dinamo terbakar dan bisa menyebabkan konsumsi listrik lebih besar lagi. Karena yang mahal adalah detik-detik sebelum terbakar ini, “ jelas Kevin.

Kevin mengklaim Ia bisa menghemat dari biaya listrik rata-rata 1 bulan yang mencapai sekitar 1 juta/ 1 HP menjadi sekitar 500-600 ribuan/ bulan. “Misal, untuk penggunaan 12 kincir per kolam untuk 4 kolam, biaya listriknya tidak sampai 20 juta/ bulan sudah dengan penggunaan listrik untuk pompa laut,” jelasnya.

Percaya Diri

Mulai memutuskan terjun ke tambak sejak 2019, Kevin melihat potensi bisnis budidaya udang yang cukup besar. Walau tidak memiliki basic ilmu budidaya tapi pemuda ini tidak segan belajar dari senior dan juga banyak literatur.

Saat ini dengan mengelola 6 tambak aktif seluas 3000 m2/ kolam, Kevin terjun langsung sebagai teknisi di tambaknya. Kevin membagikan tipsnya bagi petambak muda maupun yang baru mulai budidaya, Ia menyarankan agar tiap tambak harus punya pendirian dan jangan mudah meniru sistem budidaya tambak lain.

Lihat: Cara Budidaya Udang Vaname

“Percaya dengan dapur sendiri, jangan terpengaruh dengan orang lain. Belajar dari banyak pihak boleh, tapi menambak dengan ciri khas sendiri aja,” pungkasnya.

Share your love
Pakan Pabrik
Pakan Pabrik

Pakanpabrik.com hadir guna memenuhi kebutuhan informasi seputar pakan ternak [unggas, akuakultur, swine, ruminansia dan petfood].
Dengan segmen yang sangat khusus dan spesifik, pakanpabrik.com menyajikan serba-serbi industri pakan ternak dan hewan kesayangan Anda.

Articles: 544