Konsumsi susu di Indonesia menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020 masih diangka 16,27 kg per kapita per tahun. Ternyata angka tersebut apabila dibandingkan dengan negara tetangga tergolong lebih rendah. Seperti Vietnam misalnya yang telah mencapai 20 kg per kapita per tahun atau dengan Malaysia yang mencatat angka konsumsi sebesar 50 kg per kapita per tahun.
Pemerintah, dalam hal ini Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI mencatat jumlah populasi sapi perah dari tahun ke tahun cenderung stagnan. Pada 2020 tercatat populasi sapi perah di Indonesia mencapai 584.582 ekor. Catatan produksinya dalam susu segar dalam negeri (SSDN) mencapai 997 ribu ton.
Kebutuhan susu di Indonesia sendiri diperkirakan pada 2022 ini mencapai 4,3 juta ton per tahun. Sementara hanya 22,7 % saja yang baru dapat dipenuhi melalui SSDN. Sisanya masih mengandalkan impor. Tentunya, peningkatan kualitas dan produksi susu sapi menjadi perhatian sendiri baik oleh peternak dan pemerintah. Sebab itu banyak cara dilakukan, salah satunya adalah pada pakan sapi perah.

PakanPabrik.com berkesempatan berbincang mengenai pakan sapi perah dengan seorang dokter hewan praktisi dan juga CEO dari DairyPro Indonesia, drh. Deddy Fachruddin Kurniawan. DairyPro yang digagasnya telah dikenal luas sebagai salah satu rujukan konsultasi peternakan sapi perah di Indonesia. Mari simak selengkapnya.
Pakan Pabrik (PP) : Apa yang membedakan pakan untuk sapi perah dengan sapi potong?
drh. Deddy (DF) : Pakan sapi perah bertujuan untuk menghasilkan susu, di mana energi yang dibutuhkan adalah berupa asam butirat yang lebih banyak terdapat pada serat hijauan. Pakan sapi potong bertujuan untuk menghasilkan daging di mana asam lemak yang dibutuhkan adalah berupa asam propionat yang banyak terdapat pada biji-bijian.
PP : Selain hijauan, konsentrat pada pakan sapi perah juga sangat dibutuhkan. Berapa persentase hijauan dan konsentrat yang disarankan?
DF : Pada sapi perah laktasi, rekomendasi persentase antara hijauan dan konsentrat berkisar antara 70:30 hingga 60:40 di mana volume dan berat hijauan yang diberikan harus lebih banyak dibandingkan konsentrat. Namun pada sapi perah yang tidak laktasi atau tidak menghasilkan susu, dapat menggunakan hijauan hingga 90% dalam pakan hariannya. Pada sapi potong, konsentrat dapat digunakan lebih banyak terutama jenis konsentrat yang memiliki kadar energi lebih tinggi.
PP : Apakah penting untuk menyediakan air secara tak terbatas untuk sapi perah?
DF : Sebanyak 87% komposisi susu adalah air, sehingga ketersediaan air minum akan sangat signifikan mempengaruhi metabolisme dan produksi susu. Air bukan hanya diperlukan untuk memproduksi susu, namun juga dibutuhkan untuk keseluruhan metabolisme dalam tubuh sapi. Keberadaan air juga menjadi komponen utama dalam menurunkan efek heat stress (stres karena panas) pada sapi perah.
PP : Adakah hijauan yang disarankan sebagai pakan sapi perah? Apa yang membuatnya lebih baik dari pada hijauan lainnya?
DF : Rekomendasi hijauan terbaik untuk sapi perah adalah tebon jagung disertai buah jagung yang dalam keadaan menjelang dewasa. Tanda dari buah jagung yang sangat baik untuk sapi adalah masih terdapatnya cairan dari biji jagung ketika ditekan menggunakan kuku tangan. Tebon jagung seperti ini bisa didapat pada umur 70-75 hari.
Tebon jagung dengan kriteria seperti ini memberikan kadar serat terbaik dan energi yang tinggi untuk produksi susu. Buah jagung dengan kondisi seperti ini memiliki kandungan kadar gula yang tinggi sehingga sangat baik untuk produksi susu.
Tebon jagung bisa diberikan dalam kondisi segar maupun terfermentasi dalam bentuk silase. Silase jagung sangat baik untuk sapi perah karena akan meningkatkan kadar energi, protein dan meningkatkan palatabilitasnya.
PP : Apakah silase selalu lebih baik kualitasnya daripada hijauan segar ketika diberikan untuk sapi perah? Mohon dijelaskan.
DF: Silase sangat baik diberikan kepada sapi perah namun tidak direkomendasikan diberikan untuk mengganti keseluruhan kebutuhan hijauan. Kami merekomendasikan hanya memberikan 50% silase dari total hijauan yang diberikan untuk sapi perah. Silase sendiri memiliki kadar asam yang tinggi. Jika diberikan secara keseluruhan apalagi dalam durasi waktu yang lama, akan mempengaruhi kadar asam lambung dan menyebabkan masalah kesehatan seperti asidosis.
PP : Berapa kali sebaiknya pakan sapi perah diberikan?
DF : Pada dasarnya, semakin banyak frekuensi pemberian pakan sapi adalah lebih baik. Namun perlu dipertimbangkan efek pada manajemen dan kemudahannya. Pada kondisi normal, pemberian pakan sapi perah sebaiknya menyesuaikan jadwal pemerahan. Usahakan sapi selalu mendapatkan nutrisi yang segar setiap kali selesai dilakukan pemerahan.
PP : Konsentrat seperti apa yang baik untuk meningkatkan produktivitas sapi perah?
DF : Pertama, konsentrat yang disukai dan dimakan sapi. Tidak semua konsentrat bernutrisi tinggi disukai dan dimakan sapi. Jadi, harus dipastikan dari segi warna, rasa, aroma disukai sapi.
Kedua, konsentrat yang stabil komposisi dan kandungan nutrisinya. Sering kali konsistensi kualitas konsentrat menjadi masalah. Kestabilan kualitas dan komposisi konsentrat akan mempengaruhi kestabilan mikroba rumen. Mikroba rumen itu sangat sensitif pada setiap perubahan dan mikroba rumen akan mudah stres jika terjadi perubahan kualitas serta komposisi konsentrat. Stres ini akan menyebabkan tingginya mortalitas mikroba dalam rumen dan menyebabkan produktivitas menjadi tidak stabil.
Ketiga, konsentrat yang memiliki nilai nutrisi tercerna tinggi. Metabolik energi yang terdapat dalam konsentrat akan sangat menentukan produktivitas sapi perah.
Keempat, konsentrat yang tidak mengandung bahan berbahaya untuk sapi. Penggunaan protein hewani pada konsentrat sapi akan menyebabkan masalah ikutan yang berbahaya bagi sapi. Contoh kasus sapi gila adalah salah satu bentuk akibat dari adanya bahan berbahaya pada konsentrat.
PP : Mineral dan vitamin apa saja yang perlu ada di pakan agar sapi sehat dan berproduksi maksimal?
DF : Vitamin utama yang dibutuhkan oleh sapi adalah Vitamin A, D dan E. Kombinasi Vitamin A dan E sangat dibutuhkan untuk kerja syaraf, penampakan bulu, kulit, kuku, kesuburan dan kekuatan otot. Kombinasi Vitamin A, D dan E sangat penting untuk pembentukan kekebalan tubuh/imunitas dan perkembangan janin.
Mineral makro utama yang dibutuhkan oleh sapi adalah Kalsium, Magnesium, Kalium dan Fosfor. Kombinasi Kalsium dan fosfor sangat penting untuk kekuatan syaraf dan otot, kekuatan tulang dan produksi susu. Kombinasi Magnesium dan Kalium sangat penting untuk peningkatan nafsu makan sapi. Karena Magnesium adalah stimulator Kalsium, maka keberadaan kedua mineral ini sangat berhubungan erat setiap saat.
Mineral Mikro memiliki peran sangat signifikan karena mineral ini sangat esensial mempengaruhi banyak sistem metabolisme. Kombinasi cuprum, seng, selenium, kobalt dan mangan menjadi penentu metabolisme pada seluruh sistem metabolisme sapi perah. Kita harus memastikan keberadaan mineral mikro ini berada dalam kadar cukup dan mampu diserap dengan baik.
PP : Apakah ada perbedaan dalam ransum pakan untuk sapi perah laktasi dengan sapi perah kering?
DF : Sapi perah laktasi bertujuan menghasilkan susu sebanyak mungkin dan mendukung persiapan reproduksi. Kadar energi tinggi harus diberikan pada grup sapi laktasi ini. Sapi laktasi memiliki dua fase berbeda yang berada pada waktu yang sama. Pada saat yang sama sapi harus membongkar energi tinggi dan mengeluarkan dari tubuh melalui susu, namun sapi juga dituntut menyimpan energi untuk menghasilkan sel telur, menunjukkan gejala berahi, melakukan fertilisasi dan implantasi janin di rahim. Kondisi ini menyebabkan ransum pakan pada sapi laktasi harus memiliki kadar energi yang tinggi dan sekaligus protein yang cukup dan mineral yang banyak.
Sebaliknya, sapi perah kering tidak memiliki tuntutan untuk berproduksi. Sapi perah kering hanya membutuhkan nutrisi untuk kebutuhan dasar dan merawat janin sehingga sapi perah kering tidak membutuhkan energi tinggi. Kebutuhan serat sapi perah kering lebih banyak karena harus mampu memberikan kesempatan rumen untuk mengembalikan ukuran ideal fili rumen agar siap untuk bekerja keras setelah melahirkan. Fili rumen harus dikembalikan ke ukuran maksimal, karena panjang pendeknya ukuran fili rumen akan menentukan jumlah mikroba rumen yang akan melakukan fermentasi pakan.
PP : Apa saja yang perlu diperhatikan ketika membuat ransum bagi sapi perah bunting dalam masa kering?
DF : Pertama, kadar energi dan protein. Berikan konsentrat dengan kadar energi dan protein standar yang tidak terlalu tinggi agar tidak menstimulasi aktivitas sel ambing.
Kedua, jumlah hijauan. Berikan hijauan sebanyak mungkin untuk merangsang pertumbuhan fili rumen yang baik.
PP : Terbatasnya lahan hijauan yang dimiliki peternak sapi perah sering menjadi masalah utama dalam penyediaan pakan, apakah ada alternatif atau cara agar peternak dapat tetap mendapatkan hijauan yang cukup dengan biaya yang kompetitif?
DF : Pertama, gunakan hijauan dengan produktivitas tinggi. Rumput odot super, pakchong, dan umami adalah contoh rumput dengan produktivitas dan kadar nutrisi yang tinggi
Kedua, manfaatkan kondisi musim. Jika berada pada kondisi surplus hijauan, lakukan teknologi penyimpanan hijauan dalam bentuk silase
Ketiga, lakukan kerja sama kelompok. Kelompok ternak bisa melakukan perhitungan yang lebih besar dan melakukan tindakan yang lebih besar seperti memutuskan untuk menyewa bersama lahan produktif untuk ditanam hijauan dan menerapkan teknologi penyimpanan dengan skala yang lebih besar.
Keempat, jika memungkinkan integrasikan lahan hijauan dan kandang. Kotoran sapi terbukti menjadi pupuk yang paling murah, paling mudah dan paling baik efeknya pada hijauan. Lahan yang mendapat aliran limbah dari kandang memiliki produktivitas per hektar lebih banyak daripada pupuk kimia.
Kelima, lakukan manajemen rumpun hijauan. Rumpun hijauan tidak akan memiliki daya tumbuh maksimal jika terlalu padat. Sehingga jika rumpun hijauan sudah terlihat padat, harus dilakukan pemisahan rumpun agar dapat tumbuh optimal.
PP : Apa beda keuntungan peternak yang mampu menumpuk stok rumput sekali waktu dengan peternak yang masih mencari rumput setiap hari?
DF : Peternak yang memilih untuk mencari rumput setiap hari tentu saja akan menghabiskan waktu dan tenaga setiap hari sehingga tidak sempat melakukan kegiatan produktif lainnya. Sedangkan peternak yang mampu menumpuk stok rumput sekali waktu akan memiliki waktu untuk melakukan kegiatan produktif lainnya ketika kegiatan menumpuk stok rumput sudah selesai.
PP : Sebagai praktisi sapi perah, menurut dok Deddy, upaya apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan peternak sapi perah, terutama para peternak rakyat?
DF : Pertama, mendorong peternak untuk berpikir bahwa beternak sapi perah adalah aktivitas bisnis yang harus berhitung untung rugi.
Kedua, berkelompok dan memutuskan pemimpin yang berani berpikir besar serta memiliki kemampuan manajemen yang baik.
Ketiga, memberanikan diri untuk memiliki pola pikir bisnis terintegrasi. Kegiatan kelompok tidak boleh berhenti hanya pada aktivitas budidaya saja, namun juga harus berani untuk masuk pada bisnis industri pengolahan dan pemasaran produk olahan. Kelompok ternak harus diarahkan untuk berkolaborasi, membentuk unit bisnis ikutan dengan melibatkan tenaga muda yang lebih agresif pada bisnis berbasis susu.
Keempat, mendorong adanya pendidikan strategis pada para pemimpin kelompok ternak untuk bisa memiliki pola pikir yang besar, terbuka, peka pada perubahan dan berani bersaing dengan dunia bisnis lainnya.
Kelima, mendorong masuknya teknologi mekanisasi pertanian dan teknologi informasi berbasis internet di kalangan peternak muda disertai mentor yang lebih matang. (RZ)






