Setiap petambak udang menginginkan tambaknya bisa berproduksi secara berkelanjutan dalam jangka waktu yang panjang. Tetapi bisakah ini dicapai? Menurut Direktur Politeknik Akademi Usaha Perikanan (AUP) Jakarta, Muhammad Hery Riyadi Alauddin, kelangsungan budidaya udang bisa dicapai salah satunya dengan cara memerhatikan daya dukung lingkungan tambak dan menerapkan kapasitas produksi sesuai daya dukungnya. Hal ini Ia sampaikan dalam sebuah webinar Pelatihan Manajemen Budidaya Udang yang diadakan oleh kampusnya beberapa waktu lalu.
Daya dukung suatu perairan bisa diartikan sebagai kemampuan perairan tersebut dalam mengolah limbah organik apapun yang masuk ke dalamnya. Semakin bagus atau cepat perairan itu mengolah limbah, maka semakin besar daya dukungnya untuk tambak.
Menurut Hery, ada tiga faktor yang memengaruhi daya dukung suatu perairan. Antara lain volume total air laut yang tersedia di kawasan tersebut; limbah atau sisa bahan organik budidaya itu sendiri (sibob); dan limbah yang dihasilkan oleh aktivitas lain di sekitar tambak seperti limbah rumah tangga, pertanian, peternakan, dan sebagainya.
Lalu bagaimana cara menghitung daya dukung lingkungan tambak yang dimaksud Hery?
Menurutnya, ada tiga pendekatan praktis yang bisa digunakan untuk menghitungnya secara cepat (rapid assessment). Pertama melalui perhitungan volume air di kawasan tersebut dan kecepatannya dalam mengurai limbah organik. Kedua melalui penghitungan kapasitas oksigen terlarut yang bisa membantu mengurai limbah organik. Dan terakhir melalui kapasitas asimilasi perairan itu terhadap limbah nitrogen dan fosfor.
Melalui tiga pendekatan itu, kata Hery “secara teknis kita bisa melakukan penilaian secara cepat tentang daya dukung lingkungan perairan. Sehingga bisa dikonversi ke dalam berapa luas lahan yang bisa dibuat untuk budidaya yang berkelanjutan.” Perhitungan-perhitungan ini cocok digunakan untuk tambak atau area pertambakan yang belum memiliki IPAL dan reservoir. Sementara untuk tambak-tambak yang sudah memiliki keduanya, daya dukung bisa diatur juga melalui manajemen kualitas air pada kedua instalasi tersebut.
1. Volume air dan laju penguraian limbah
Perhitungan volume perairan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar perairan tersebut dapat menampung sibob dalam bentuk TSS (total suspended solid) dan seberapa cepat ia mampu mengurainya. Nilai TSS sendiri dapat dihitung dari data jumlah pakan yang digunakan selama pemeliharaan. Sementara kecepatan penguraian TSS ini yang nantinya akan menjadi patokan seberapa besar beban sibob yang dapat dibuang oleh tambak ke perairan. Dan dari volume sibob itu lah, bisa dihitung seberapa besar kapasitas produksi yang bisa dilakukan tambak di kawasan tersebut.
Sedangkan untuk volume perairan dapat dihitung secara sederhana dari parameter-parameter berikut:
- Panjang pantai
- Kemiringan pantai
- Kisaran tinggi pasang surut
- Jarak pengambilan air untuk tambak
- Pola pasang surut dalam sehari (2 kali pasang dan 2 kali surut)
Selain jarak pengambilan air untuk tambak, data-data tersebut dapat ditemukan di instansi-instansi seperti BMKG, dinas-dinas perikanan, atau Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut.
2. Kelarutan oksigen
Selain melalui volume perairan dan laju penguraian limbah, daya dukung juga bisa dihitung secara cepat melalui perhitungan kandungan oksigen terlarut. Seperti diketahui, oksigen terlarut bisa membantu mengurai limbah organik melalui proses dekomposisi. Semakin besar nilai oksigen terlarut akan semakin besar juga daya dukungnya terhadap tambak.
Sementara itu, kandungan oksigen di perairan salah satunya dipengaruhi oleh pola pasang surut. Menurut Hery, proses pasang surut dapat memasok oksigen baru ke lingkungan perairan, tentunya ini bisa memberi keleluasaan perairan untuk mendekomposisi limbah. “Karena limbah yang masuk perlu didekomposisi oleh bakteri, dan bakteri memerlukan oksigen. Itu juga yang bisa kita gunakan untuk mengestimasi beban limbah organik tambak yang bisa ditampung di pesisir,” jelasnya.
Pengukuran oksigen selain menggunakan data sekunder yang sudah ada, bisa juga dengan mengukurnya langsung. Idealnya pengukuran dilakukan selama 24 jam untuk mendapatkan rata-rata yang paling mendekati kondisi paling real di lapangan.
Sebuah hasil riset, kata Hery, menyebut bahwa untuk mengurai 1 kg limbah organik dibutuhkan 0,2 kg oksigen. “Ini sebagai dasar untuk bisa rapid assesment terkait ketersediaan oksigen dan beban limbah organik yang bisa diurai,” tambahnya.
3. Daya tampung untuk Nitrogen dan Fosfor
Cara ketiga perhitungan cepat untuk daya dukung perairan dapat dilakukan melalui pendekatan parameter yang menjadi limiting factors, yakni nitrogen (N) dan fosfor (phosphorus/P). Kedua unsur kimia ini terdapat dalam limbah organik baik dari aktivitas budidaya maupun selain budidaya. Beberapa literatur menyebut bahwa untuk mendukung proses budidaya yang optimal, kandungan Total Nitrogen (TN) dan Total Fosfor (TP) di dalam limbah, masing-masing tidak boleh melebihi 1,0 mg/l dan 0,5 mg/l. TN dan TP merupakan akumulasi N dan P dari perairan itu sendiri, dari sisa bahan organik budidaya, dan limbah selain budidaya.

Kandungan N dan P di dalam perairan di kawasan pesisir bisa diketahui dari data-data riset yang sudah ada maupun dengan cara mengukur langsung. N dan P dari sisa bahan organik budidaya bisa didapat dengan mengonversi data pakan (volume pakan dan kandungan proteinnya) yang digunakan selama budidaya menjadi potensi sisa bahan organik. Sedangkan kandungan N dan P dari limbah selain budidaya bisa dihitung dengan menggunakan koefisien yang sudah ditentukan oleh para peneliti, seperti pada gambar materi webinar di atas. AB








