Mengenal Penyakit Utama Ikan Nila dan Cara Pencegahannya (Part 1)

Permasalahan penyakit memang masih menjadi salah satu tantangan utama dalam budidaya ikan, termasuk ikan nila. Meski sebetulnya ikan nila relatif tahan banting, tetapi perkembangan budidaya nila dengan kepadatan tinggi atau intensifikasi dalam beberapa dekade terakhir menyebabkan potensi penyakitnya juga menjadi lebih tinggi. Dalam budidaya ikan secara umum, penyakit ikan biasanya disebabkan oleh 4 hal. Antara lain bakteri, virus, parasit, dan fungi. Bakteri umumnya mendominasi sebagai penyebab penyakit hingga hampir 55 persennya. Kemudian virus dan parasit masing-masing 22,6 dan 19,4 persen. Dan sisanya disebabkan oleh fungi.

Hal itu juga bisa dilihat pada ikan nila, di antara 3 penyakit utama ikan nila, dua diantaranya disebabkan oleh bakteri. Yakni bakteri Streptococcus sp. penyebab penyakit Streptococcosis dan bakteri Vibrio yang biasa menginfeksi nila salin. Sementara penyakit nila lainnya disebabkan oleh virus seperti TiLV (Tilapia Lake Virus) yang baru-baru ini mewabah. Penjelasan-penjelasan tersebut disampaikan oleh pakar penyakit ikan dari Universitas Diponegoro, Prof Slamet Budi Prayitno. Menurutnya, bakteri Streptococcus merupakan penyebab terbesar penyakit pada ikan nila. Dalam kasus di lapangan, bakteri tersebut bisa menyebabkan kematian ikan hingga 40 persen. Bahkan dalam skala penelitian, kematian bisa jauh lebih tinggi lagi hingga 70-75 persen. “Artinya risiko kerugian itu bisa 70 persen,” ujar Budi dalam webinar BincangMina yang diadakan Minapoli bersama Zoetis belum lama ini.

Streptococcus Membunuh Ikan Secara Perlahan

Menurut Budi, penyakit Streptococcosis kerap membikin mangkel para pembudidaya. Sebab gejala klinis saat ikan sudah terserang penyakit ini sulit dikenali. Tau-tau ikan yang  terserang kondisinya sudah parah dan sulit untuk diobati. Sementara di sisi lain ikan sudah terlanjur besar dan menghabiskan banyak pakan.

Foto dok : Webinar BincangMina

Hal ini bisa terjadi lantaran Streptococcus tidak menghasilkan toksin yang mematikan dalam waktu cepat. Ia menyerang ikan secara perlahan hingga masuk pada organ-organ ikan dan menyebabkan kerusakan. Sehingga, nila yang terserang bakteri ini biasanya akan diketahui sakit atau mati baru  2-3 bulan kemudian.

Kematian nila pengidap streptococcosis biasanya terjadi secara bertahap, bisa sekitar 15 – 30 ekor setiap harinya. Pada kondisi seperti ini, biasanya kolam sudah terserang penyakit secara merata. Bahkan menurut Budi, jika pembudidaya menemukan 3 ekor saja ikan mati, boleh jadi 20 ekor ikan sudah terserang bahkan lebih dari itu jika padat tebarnya tinggi.

Amati Pertumbuhan

Sementara keberadaan penyakit belum diketahui karena gejala klinisnya terlambat, ada parameter yang bisa diamati untuk memprediksi adanya penyakit, yakni pertumbuhan. Budi mengungkapkan bahwa ikan nila yang terinfeksi Streptococcus mengalami perlambatan pertumbuhan akibat organ di dalam tubuh banyak yang rusak dan tidak berfungsi secara normal. “Awalnya tidak mempengaruhi pertumbuhan, tapi setelah menginfeksi organ, fungsi organ jadi menurun. Pertumbuhan melambat, gerakan melambat, dan mata menonjol,” ujarnya seraya menyebut ciri terinfeksi lainnya.

Salahsatu materi Prof Slamet Budi Prayitno

Dalam kondisi normal, pada usia 3 bulan ikan nila idealnya bisa mencapai bobot diatas 200 gram. Tetapi jika terserang penyakit, bobotnya jauh di bawah itu. Bahkan menurut Budi, untuk mencapai bobot 100 – 125 gram saja akan susah. Dan untuk meyakinkan kondisi tersebut, pembudidaya bisa melakukan sampling. Jika dalam waktu tertentu ikan yang mencapai bobot ideal hanya 33 persen atau kurang, maka dapat dipastikan ikan sudah terinfeksi Streptococcus.

“Kalo memelihara nila dari satu sampai tiga bulan, harusnya rata-ratanya mencapai 200-210 (gram) lebih bagus lagi di angka (240-250) gram, intinya di angka 200-an. Kalo mereka itu hanya 30 persen dari target, berarti sebenarnya ikannya sudah terinfeksi. Kalo ikan sudah terinfeksi, lingkungan sudah terinfeksi juga. Siklus berikutnya harus melakukan desinfeksi terhadap kolam budidaya,” jelas Budi.

Gejala Klinis Nila yang Terinfeksi

Dalam webinar tersebut, Budi yang juga menjabat sebagai penasehat INFHEM (Indonesian Network of Fish Health Management) ini menyampaikan beberapa gejala klinis pada ikan nila yang terinfeksi Streptococcus.

Berikut daftar gejala nila yang terinfeksi Streptococcus:

  • Ikan berenang berputar (spiral), tidak menentu, terbalik, dan posisi kepala diatas
  • Postur tubuh bengkok membentuk huruf C
  • Kornea mata keruh (satu atau keduanya)
  • Exophthalmia (mata belo/menonjol) atau mata berdarah, buta, keluar, dan lepas/hampir lepas
  • Beberapa lesi pada sekitar mata
  • Perut membesar ke belakang
  • Granulomatous septicaemia
  • Bengkak pada ginjal, limpa, dan hati
  • Kondisi lemah
  • Nafsu makan menurun dan tidak mau makan
  • Pertumbuhan lambat hingga 33%
  • Warna ikan lebih gelap(diskolorasi)
  • Ascites (cairan di rongga perut) jika sudah akut.

Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati

Menurut Budi, jika ikan nila sudah menunjukkan gejala-gejala tersebut, maka sulit untuk ditolong. Sebab penanggulangannya akan memakan biaya yang mahal namun tingkat keberhasilannya rendah. Informasi gejala-gejala tersebut justru lebih tepat sebagai acuan untuk persiapan budidaya selanjutnya. Bahwa kolam sudah benar-benar terinfeksi dan perlu didesinfeksi sebelum memulai budidaya selanjutnya.

“Kalo sudah seperti ini akan sangat susah mendapat keuntungan. Karena ikan mati sudah ukuran konsumsi, kalo sudah bisa panen, panen saja,” saran Budi.

Ia menekankan bahwa penanggulangan penyakit pada budidaya ikan memang tidak direkomendasikan karena kurang efektif dan efisien. Sebaliknya, yang direkomendasikan dalam menjaga kesehatan ikan adalah melalui pencegahan. Selain biayanya jauh lebih murah, tingkat keberhasilannya pun lebih tinggi.

Adapun langkah pencegahannya dapat dilakukan dengan cara memilih benih berkualitas, penerapan biosekuriti, pengelolaan air, dan vaksinasi. Bagaimana detail pencegahannya? Simak di artikel selanjutnya. AB

Share your love
Pakan Pabrik
Pakan Pabrik

Pakanpabrik.com hadir guna memenuhi kebutuhan informasi seputar pakan ternak [unggas, akuakultur, swine, ruminansia dan petfood].
Dengan segmen yang sangat khusus dan spesifik, pakanpabrik.com menyajikan serba-serbi industri pakan ternak dan hewan kesayangan Anda.

Articles: 544