Telur ayam merupakan salah satu bahan pangan sarat akan nilai gizi. Selain karena kandungan gizinya, telur diminati lantaran harganya yang murah dan rasanya yang lezat. Telur juga mudah dijumpai di warung. Mengutip Fatsecret.com, satu butir telur sedang dengan berat 50 gram memiliki nilai kalori hingga 74 kalori dengan rincian 63% lemak, 2% karbohidrat dan 35% protein.
Ada banyak jenis telur yang beredar di pasaran. Mulai dari telur ayam negeri yang dihasilkan dari ayam petelur (layer) komersial, telur ayam kampung yang dihasilkan dari ayam kampung, telur organik dan telur omega. Kebanyakan perbedaannya adalah dari mana telur tersebut diproduksi. Berikutnya adalah dengan metode apa telur tersebut dihasilkan.
Balai Besar Penelitian Peternakan Kupang dalam lama resminya menyebut telur organik dihasilkan dari ayam yang diberikan pakan menggunakan bahan baku organik yang ditanam di tanah. Bahan baku pakan tersebut tidak menggunakan pupuk anorganik dan bebas dari zat kimia. Air minum yang diberikan pada ayam juga bebas dari klorin. Selama berproduksi, ayam akan diberikan pakan yang bebas antibiotik, koksidiostat, residu pestisida, dan suplemen asam amino.
Sementara masih dari sumber yang sama dikatakan telur omega-3 (omega-3 PUFA) merupakan telur kaya akan kandungan omega-3. Telur jenis ini dihasilkan dari ayam yang diberi pakan khusus dengan kandungan omega-3, seperti minyak ikan. Minyak ikan yang digunakan dalam pakan dapat membuat pakan mudah menjadi tengik. Untuk mengimbanginya, pakan tersebut perlu diberikan anti-oksidan seperti vitamin E, selenium, dan pigmen karotenoid.
Kini, tak jarang telur omega-3 dijumpai di banyak retail modern maupun penjual daring yang menggunakan aneka marketplace. Intannisa Davy Karbian, pemilik Jogja Indofarm, menyampaikan jika harga telur omega di pasaran cenderung stabil, bahkan ketika masa pandemi Covid-19 lalu. “Telur omega bisa stabil dikisaran 27-30 ribu per pak. Sedangkan harga telur ayam biasa pernah jatuh sampai Rp 16 ribu per kg. Sementara HPP (harga pokok produksi) peternak petelur ada di kisaran Rp 20-23 ribu per kg,” terangnya.
Beralih Ke Telur Omega
Biasanya, Intan memproduksi DOC (anak ayam umur sehari) Joper (jawa super), namun ketika pandemi pada kurun 2020 lalu, permintaan DOC Joper merosot tajam berbarengan dengan menurunnya permintaan Joper akibat tutupnya banyak rumah makan. Ia pun lantas harus memutar otak agar usaha yang dibangun bersama mitranya tetap berjalan. Salah satunya adalah mengalihkan produksi telur yang seharusnya menghasilkan DOC dari budidaya indukan Joper yang Ia lakukan, menjadi telur konsumsi biasa.
Peralihan fokus produksi tersebut tentunya mengubah ransum/ pakan yang diberikan pada layer. Awalnya, Intan dan mitranya tidak langsung memproduksi telur omega. Mereka hanya ingin agar ayam-ayam yang ada dapat dimanfaatkan agar mampu bertahan melalui pandemi. Ransum ayam yang semula dibuat khusus untuk indukan lantas diubah agar mampu menyokong produksi telur saja. Namun, ternyata hantaman harga rendah tak terelakkan sehingga harus membuat Intan memutar otak lagi.

Ia menilai, dengan tidak stabilnya harga telur akan berdampak pada keberlanjutan usaha yang telah dibangunnya bersama mitra. Berbeda dengan harga telur omega yang cenderung stabil. Kemudian perlakukan pakan ke ayam pun diubah lagi untuk menghasilkan telur omega-3.
Sempat terpikir oleh Intan jika warna kuning telur omega-3 dihasilkan dari pemberian jagung, namun setelah ia mencobanya sendiri ternyata anggapan itu keliru. Dari hasil percobaan dan pencarian informasinya, ia membuat campuran pakan jadi dari pabrik dengan penambahan aditif pakan yang khusus untuk menghasilkan omega-3. Secara teknis pemberian pakan tidak ada perbedaan dengan pemberian ayam layer pada umumnya. “Sesuaikan kebutuhan pakan dengan umur layer,” tekan Intan.
Dini Hardini et all. (2005) dalam penelitiannya tentang manipulasi pakan layer untuk menghasilkan telur ayam rendah kolesterol menggunakan variasi asam lemak dari minyak ikan lemuru dan minyak sawit. Hasilnya, pada perlakukan pemberian minyak ikan lemuru dan minyak sawit sebanyak 2 % dan 6 % dalam formulasi pakan layer mampu mendongkrak perbandingan kandungan omega-3 dan omega-6 dalam telur menjadi 1:4,6.
Telur dengan kandungan omega-3 dan 6 tersebut diyakini mampu mencegah penyakit jantung koroner sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sinclair dan Simopoulus pada 2003. Mereka meneliti gen pada orang Eskimo yang jarang bahkan tidak pernah terserang penyakit jantung. Hardini juga menulis, rasio asam lemak omega-3 dan 6 yang ideal juga dapat mengurangi inflamasi, mencegah denyut jantung tidak teratur dan melancarkan aliran darah.
Telur Omega-3 dari Ayam Kampung
Tak berhenti di telur layer komersial, Intan kini mengambangkan produk telur omega-3 yang berasal dari ayam kampung. Ia menggunakan jenis ayam kampung yang telah diseleksi sehingga mampu menghasilkan telur lebih banyak dari ayam kampung biasa selama setahun.
Menggunakan metode dan racikan pakan yang dikembangkan bersama dengan mitranya Intan mampu memproduksi telur ayam kampung omega-3.Telur ini dibanderol tak jauh dari harga telur ayam kampung biasa yakni Rp 3.000 per butirnya. Ia memilih mematok harga untuk telur ayam kampung omega-3 secara butiran, lantaran menurutnya harganya dinilai tidak realistis apabila dijual dalam bentuk kilogram.
Beralih Ke Telur Omega
Biasanya, Intan memproduksi DOC (anak ayam umur sehari) Joper (jawa super), namun ketika pandemi pada kurun 2020 lalu, permintaan DOC Joper merosot tajam berbarengan dengan menurunnya permintaan Joper akibat tutupnya banyak rumah makan. Ia pun lantas harus memutar otak agar usaha yang dibangun bersama mitranya tetap berjalan. Salah satunya adalah mengalihkan produksi telur yang seharusnya menghasilkan DOC dari budidaya indukan Joper yang Ia lakukan, menjadi telur konsumsi biasa.
Peralihan fokus produksi tersebut tentunya mengubah ransum/ pakan yang diberikan pada layer. Awalnya, Intan dan mitranya tidak langsung memproduksi telur omega. Mereka hanya ingin agar ayam-ayam yang ada dapat dimanfaatkan agar mampu bertahan melalui pandemi. Ransum ayam yang semula dibuat khusus untuk indukan lantas diubah agar mampu menyokong produksi telur saja. Namun, ternyata hantaman harga rendah tak terelakkan sehingga harus membuat Intan memutar otak lagi beda pakan layer dan broiler.

Ia menilai, dengan tidak stabilnya harga telur akan berdampak pada keberlanjutan usaha yang telah dibangunnya bersama mitra. Berbeda dengan harga telur omega yang cenderung stabil. Kemudian perlakukan pakan ke ayam pun diubah lagi untuk menghasilkan telur omega-3.
Sempat terpikir oleh Intan jika warna kuning telur omega-3 dihasilkan dari pemberian jagung, namun setelah ia mencobanya sendiri ternyata anggapan itu keliru. Dari hasil percobaan dan pencarian informasinya, ia membuat campuran pakan jadi dari pabrik dengan penambahan aditif pakan yang khusus untuk menghasilkan omega-3. Secara teknis pemberian pakan tidak ada perbedaan dengan pemberian ayam layer pada umumnya. “Sesuaikan kebutuhan pakan dengan umur layer,” tekan Intan.
Dini Hardini et all. (2005) dalam penelitiannya tentang manipulasi pakan layer untuk menghasilkan telur ayam rendah kolesterol menggunakan variasi asam lemak dari minyak ikan lemuru dan minyak sawit. Hasilnya, pada perlakukan pemberian minyak ikan lemuru dan minyak sawit sebanyak 2 % dan 6 % dalam formulasi pakan layer mampu mendongkrak perbandingan kandungan omega-3 dan omega-6 dalam telur menjadi 1:4,6.
Telur dengan kandungan omega-3 dan 6 tersebut diyakini mampu mencegah penyakit jantung koroner sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sinclair dan Simopoulus pada 2003. Mereka meneliti gen pada orang Eskimo yang jarang bahkan tidak pernah terserang penyakit jantung. Hardini juga menulis, rasio asam lemak omega-3 dan 6 yang ideal juga dapat mengurangi inflamasi, mencegah denyut jantung tidak teratur dan melancarkan aliran darah.
Telur Omega-3 dari Ayam Kampung
Tak berhenti di telur layer komersial, Intan kini mengambangkan produk telur omega-3 yang berasal dari ayam kampung. Ia menggunakan jenis ayam kampung yang telah diseleksi sehingga mampu menghasilkan telur lebih banyak dari ayam kampung biasa selama setahun.
Menggunakan metode dan racikan pakan yang dikembangkan bersama dengan mitranya Intan mampu memproduksi telur ayam kampung omega-3.Telur ini dibanderol tak jauh dari harga telur ayam kampung biasa yakni Rp 3.000 per butirnya. Ia memilih mematok harga untuk telur ayam kampung omega-3 secara butiran, lantaran menurutnya harganya dinilai tidak realistis apabila dijual dalam bentuk kilogram.
Margin yang didapat Intan dan mitranya diakui memang tidak banyak meski ia enggan menyebutkan tepatnya. “Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan telur layer biasa. Hanya saja untuk telur layer ada campur tangan pemerintah sehingga harga bisa ditekan sedemikian rupa. Ini (telur omega-3) kan kita masih bebas, karena bukan pasaran yang diatur pemerintah,” pungkas dia. (RZ)






