Ingin Budidaya Nila Saat Pensiun? Simak Tipsnya!

Menjadi pembudidaya nila sebagai alternatif usaha setelah mencapai masa pensiun bukan tidak mungkin. Bahkan usaha ini bisa menjadi pilihan menarik karena selain dapat menghasilkan cuan juga akan membuat para pensiunan tetap punya kesibukan. Seperti dikisahkan Merry Susanti, business woman yang bersama suaminya Ipda Pol Paimin memutuskan menjadi pembudidaya nila sejak 2,5 tahun terakhir. “Kebetulan suami saya yang berasal dari instansi kepolisian sudah memasuki masa pensiun, jadi kami sudah menyiapkan apa yang akan kami lakukan saat pensiun itu benar-benar tiba,” kisahnya.

Diakui Merry, upaya memulai usaha budidayanya tidak selalu berjalan mulus. Banyak tantangan yang dihadapi, apalagi dirinya dan suami mempelajari semua hal tentang budidaya ini sendiri alias otodidak. Tetapi Ia dan suaminya memang telah merencanakan ini sejak lama. “Kami ingin menikmati masa pensiun dengan tetap punya kegiatan yang bermanfaat dan senangnya yang bersatu dengan alam. Karena kan selama puluhan tahun sudah menghadapi rutinitas di perkotaan. Jadi kalo bisa punya usaha sendiri sekaligus sebagai penghilang stres akan sangat nikmat sekali,” ujar perempuan asli Jawa Timur ini.

Tentukan Lahan dan Kuatkan Pemasaran

Ketika memutuskan akan budidaya nila, Merry dan suami memulai langkah pertama dengan mencari lahan yang sesuai. Tadinya Ia berencana membeli lahan di daerah Bogor karna tidak begitu jauh dengan lokasi tempat tinggalnya. Tetapi karena faktor sumber air yang cukup jauh dengan lokasi budidaya dan juga faktor kemacetan Ia memutuskan mencari daerah lain. Dan setelah memakan waktu hampir 1 tahun pilihannya jatuh ke Subang, Jawa Barat.

Di atas lahan yang dibelinya, Merry dan suami membangun 15 kolam nila sistem air deras serta bangunan rumah untuk ditinggali sejak 2019, walaupun sempat tersendat saat pandemi menyerang. Menurut Merry, dengan membangun sendiri kolam serta bangunan tempat tinggal dari lahan yang dibelinya, dapat memberikan kebebasan menentukan desain sesuai keinginan dan bisa lebih ekonomis.

Setelah masalah lahan teratasi, bagi Merry tantangan terberat saat mulai budidaya nila adalah dari sisi pemasaran hasil panenn biaya budidaya nila bioflokya. Ia mengisahkan, di awal-awal, dirinya sangat bergantung pada pengepul yang notabene juga mengambil dari banyak pembudidaya sehingga hasil panennya kadang tidak terserap. Ia pun memutuskan terjun langsung dan berjibaku mencari chanel untuk memasarkan hasil panennya. “Saya sempat ngalamin ikan nila merah gak bisa keluar karna produknya berlimpah di market juga karena ada PPKM sehingga ikan tidak bisa keluar sampai ikannya lumayan besar-besar di kolam, tapi alhamdulillah akhirnya terjual juga,” kisah wanita yang merupakan pengusaha di bidang bubut ini.

Jaga Kualitas Air Serta Tingkatkan Produktivitas

Dari sisi manajemen budidaya, Merry dan suami kerap berdiskusi/ sharing dengan pembudidaya di sekitarnya juga dengan stakeholder lain seperti dari pabrikan pakan. Ia sendiri percaya, bahwa kualitas air penting menentukan keberhasilan budidaya ikan nilanya. Oleh karena itu Ia selalu menjaga pasokan oksigen selalu tercukupi. Walaupun dengan sistem kolam air deras hal ini cenderung teratasi tapi Ia tetap menambahkan aerator untuk berjaga-jaga.

Budidaya nila sebagai alternatif usaha saat pensiun

Merry juga punya teknik tersendiri sebagai upaya meningkatkan hasil panennya. Ia menyiapkan satu kolam besar untuk menampung benih hingga ukuran agak besar yang disebutnya kolam jimbleng/ kolam penampungan sementara. Saat kolam jaluran/ kolam pembesaran sudah kosong setelah panen, maka langsung diisi benih ikan yang telah disortir dari yang paling besar untuk mengisi kolam pembesaran dan kolam penampungan sementaradiisi kembali dengan benih baru. Begitu seterusnya sehingga budidaya setelah panen hampir tidak pernah putus. “Jadi kalo biasanya orang-orang abis panen sempat kosong kolamnya, saya sudah punya stok ikan di kolam penampungan sementara sehingga bisa langsung masuk lagi. Dan ternyata ini bisa jadi inspirasi orang lain. Siklus panen juga jadi lebih cepat. Intinya dari pengalaman-pengalaman saya belajar dan menerapkan inovasi atau metode-metode baru,” klaimnya.

Persiapkan dengan Matang

Merry menyadari, salahsatu tantangan utama budidaya adalah ketersediaan modal. Bagi pembudidaya, ini sangat krusial apalagi jika setelah panen mereka belum menerima pembayaran, maka akan kesulitan untuk membeli pakan dan melanjutkan budidayanya. Merry berusaha menjembatani ini dengan membentuk kelompok pembudidaya disekitarnya. “Dari awal-awal kesulitan memasarkan ikan nila, saya sekarang jadi bandar. Saya beli punya pembudidaya lain untuk memenuhi kebutuhan pasar, tapi niatnya juga bantu karna saya membayar cash kepada para pembudidaya ini sehingga mereka bisa segera mulai budidaya kembali,” terangnya.

 Merry juga tidak ingin menyebutnya sistem kemitraan, karena yang penting baginya para pembudidaya ini bisa bergantian panen, dan semua hasil panennya terserap dengan cepat. “Saya bikin link seperti ini, agar penjualan semua merata dan tidak kesulitan lagi memasarkan ikan panen mereka. Saya juga maunya kita bikin kelompok pembudiaya agar bisa mengajukan bantuan UMKM sehingga budidaya disini bisa semakin maju dan berkembang. Intinya di masa tua saya ingin berguna untuk orang banyak,” tegas Merry.

Sejak mulai budidaya nila, Merry mengaku belum mencapai BEP, karena Ia juga masih melakukan pengembangan dari sisi kolam dan juga bangunan tempat tinggal. Oleh karena itu Ia menyarankan setidak-tidaknya 10 tahun menjelang pensiun sudah harus persiapan. “Karna kebanyakan orang-orang itu terlena hidup di kota besar, tidak ingat masa tua. Kalo kerja-kerja terus kemudian pensiun biasanya bisa sakit, makanya butuh kesibukan yang menyenangkan. Kumpulin modal, buat perhitungan dan pelajari apa yang mau kita mulai dan jalani di masa pensiun,” sarannya.

Terakhir, Merry menyampaikan tips budidaya untuk pemula dapat dimulai dengan mempelajari dulu semua tantangan-tantangan budidaya, kemudian persiapkan modal baik untuk lahan serta biaya-biaya produksinya dan yang terpenting, memiliki tekad, karena jika sudah dimulai bisa berjalan pelan-pelan. “Harus siap jatuh bangun dengan bisnis yang baru dimulai dan tidak mudah menyerah. Yang jelas, nikmat kalo punya usaha sendiri,” pungkasnya.

Share your love
Pakan Pabrik
Pakan Pabrik

Pakanpabrik.com hadir guna memenuhi kebutuhan informasi seputar pakan ternak [unggas, akuakultur, swine, ruminansia dan petfood].
Dengan segmen yang sangat khusus dan spesifik, pakanpabrik.com menyajikan serba-serbi industri pakan ternak dan hewan kesayangan Anda.

Articles: 544