Sudah 2,5 tahun lamanya Merry Susanti dan suami, Ipda Pol Paimin menggeluti usaha budidaya nila. Untuk memulai usaha ini, Merry mengaku jalannya tidak selalu mulus. Wanita yang juga business woman ini bersama suaminya belajar secara otodidak mengenai seluk-beluk budidaya nila mulai dari manajemen budidaya hingga pemasarannya.
Merry mengisahkan, di awal Ia merasa kendala terutama ada di pemasaran hasil panen ikannya. Selain karena harus bergantung pada pengepul, saat itu juga sempat terkendala PPKM saat covid sehingga banyak ikan yang tertahan di pembudidaya. “Saya sempat ngalamin ikan nila merah gak bisa keluar karna produknya berlimpah di market juga karena ada PPKM sehingga ikan tidak bisa keluar sampai ikannya lumayan besar-besar di kolam, tapi alhamdulillah akhirnya terjual juga,” kenangnya. Berbekal tekad kuat untuk terus mengembangkan usaha budidaya nilanya, Ia mempelajari medan hingga akhirnya menjadi bandar/ pengepul yang turut diperhitungkan.
Untuk menunjang pemasaran, Merry juga harus memperhatikan manajemen budidaya nilanya. Selain belajar secara otodidak, Ia juga kerap sharing dengan stakeholder di sektor budidaya ikan nila seperti pabrikan pakan maupun dengan pembudidaya sekitar. “Banyak hal saya pelajari, lama-lama ngerti sedikit-sedikit dan tambahkan inovasi yang bisa mengoptimalkan budidaya ikan ini,” terangnya.
Manajemen Budidaya
Merry dan suami membangun 15 kolam nila sistem air deras serta bangunan rumah untuk ditinggali sejak 2019 yang berlokasi di Subang, Jawa Barat. Menurut Merry, salahsatu faktor penentu keberhasilan budidaya ikan nila adalah kualitas air untuk menjaga pasokan oksigen tercukupi. Walaupun dengan sistem kolam air deras hal ini cenderung teratasi tapi Ia tetap menambahkan aerator untuk berjaga-jaga.
Untuk mengoptimalkan hasil budidayanya, Merry punya teknik tersendiri. Ia menyiapkan satu kolam besar untuk menampung benih hingga ukuran agak besar yang disebutnya kolam jimbleng/ kolam penampungan sementara. Saat kolam jaluran/ kolam pembesaran sudah kosong setelah panen, maka langsung diisi benih ikan yang telah disortir dari yang paling besar untuk mengisi kolam pembesaran, dan kolam penampungan sementaradiisi kembali dengan benih baru. Begitu seterusnya sehingga budidaya setelah panen hampir tidak pernah putus. “Jadi saya kalo beli benih tidak nunggu jaluran (kolam pembesaran) habis karna saya punya jimbleng ini. Jika biasanya orang-orang abis panen sempat kosong kolamnya, saya sudah punya stok ikan di kolam penampungan sementara sehingga bisa langsung masuk lagi,” urainya.
Ia mengklaim dengan metode ini masa panen menjadi lebih cepat dari yang biasanya mencapai 5 bulan, bisa menjadi 3-4 bulan karena sudah disortir ikan yang besar dari kolam penampungan sementara. “Karna ukuran benih juga tidak selalu seragam, maka yang lebih besar duluan dan agresif makan harus segera dipindah ke kolam pembesaran. Dengan metode ini, panen bisa jadi lebih cepat,” klaimnya. Merry menjelaskan, kolam penampungan sementara dapat diisi hingga 5 kuintal benih ukuran 80-100 dan untuk pakannya langsung menggunakan pakan pelet min 2 dengan hasil panen ukuran 4-5 sesuai dengan banyaknya permintaan pasar.

Sedangkan untuk pakan, selain pelet Merry juga kadang menambahkan bahan alami sebagai campuran di pakan ikannya. Salahsatunya adalah mengkudu yang dijus dan dicampurkan ke pakan. “Biasanya kalo nila keliatan sakit. Waktu itu sempat sepertinya kena virus karna banyak mati. Lalu mulai saya kasi campuran mengkudu dan garam ke pakan, juga kunyit dan garam, ikan langsung terlihat lincah dan sehat lagi,” klaim Merry. Merry menduga, hal ini terjadi karena ikan sedang adaptasi dari lokasi pengambilan benih yang semula airnya hangat, kemudian dibawa ke kolam di lokasi budidaya yang airnya dingin. “Waktunya gak tentu, kadang seminggu udah keliatan kayak sakit, atau setelah 1 bulan baru keliatan. Nah makanya kalo keliatan dari makannya kayak udah lesu langsung dibuatin campuran itu, sangat bagus sekali,” jelasnya.
Bagi Merry, pakan merupakan salahsatu faktor penting dalam budidaya. Oleh karena itu Ia menyampaikan harapannya agar harga pakan bisa kompetitif tetapi tetap menjaga kualitas. Namun di atas itu, menurut Merry kualitas air lah yang utama. “Kalo pakan bagus kualitas air jelek sama saja, hasilnya kurang optimal,” tutupnya.








