Tidak dapat dipungkiri, stigma lele sebagai ikan pemakan limbah dan pemeliharaan seadanya membuat sebagian orang masih enggan mengkonsumsi ikan golongan catfish ini. Padahal, manajemen pemeliharaan lele saat ini sudah semakin maju dan berkembang. Bahkan untuk pakan ada yang sudah menggunakan full pelet atau pakan dari pabrikan, sejak awal pemeliharaan hingga panen. Hal inilah yang diterapkan oleh Haji Usman, pembudidaya lele di Parung, Bogor, Jawa Barat. Sejak awal, Ia tegas melarang penggunaan pakan limbah untuk budidaya lelenya.
Menurut pria yang telah budidaya lele sejak 2007 ini, ada anggapan jika menggunakan pakan full pelet untuk budidaya lele, maka tidak akan untung. Sehingga masih ada yang menggunakan pakan berasal dari limbah semisal limbah restoran, sisa-sisa makanan kotor, dll. Padahal, kata H. Usman, selama pembudidaya paham cara pemberian pakan dan juga pengaturan air kolam, budidaya lele masih bisa untung. Selain itu, dari sisi sosial lingkungan juga tidak akan dikomplain karena budidaya yang dilakukan tidak menimbulkan bau bagi warga sekitar. “Niat saya pinginnya lele ini bisa dimakan orang banyak tanpa rasa riskan dan mempertanyakan kebersihannya. Karena ternyata setelah saya cek sampel lele fillet saya di lab balai, dari sisi kandungan protein serta lemaknya bagus dan yang paling penting bebas dari cemaran logam berat serta E. coli,” klaimnya.
Penyaringan Air Kolam dan Pemberian Pakan Lele
Budidaya ikan pada dasarnya adalah budidaya air. Termasuk di budidaya lele. Sumber air kolam budidaya lele H. Usman berasal dari sungai yang mengalir melalui parit, sehingga harus dilakukan beberapa perlakuan sebelum air tersebut masuk ke dalam kolam budidaya. Ia membaginya menjadi 2 perlakuan.
Pertama H. Usman menyiapkan menyiapkan 4 tandon sebagai tempat menampung air sebelum air masuk ke dalam kolam budidaya. Ia menjelaskan konstruksi bangunan tandon strukturnya dibuat berkelok-kelok untuk mengendapkan kotoran yang terbawa air. Kemudian perlakuan kedua, Ia menumbuhkan eceng gondok di ujung bangunan tandon yang berkelok sebagai penyaring. “Jadi air masuk, ngalir, ngendap dulu, dan setelah sampai di ujung relatif sudah bening serta sampah-sampah seperti plastik sudah tersaring,” urainya. Walaupun air kolamnya berasal dari sungai untuk irigasi, Ia tetap mewaspadai kemungkinan adanya limbah yang terbawa. “Selain itu juga kalo airnya tidak bening dan kualitasnya tidak bagus, padat tebarnya tidak bisa tinggi. Sedangkan kalo airnya bening dan bersih kita berani padat tebar hingga 300/m3 air,” klaimnya.

Terkait manajemen pemberian pakan, H. Usman membebaskan para pembudidaya yang tergabung dalam kemitraannya. Umumnya, jelas H. Usman, mereka menggunakan pakan ukuran 3 mm yang telah direndam terlebih dahulu, untuk bibit ikan ukuran 9-10 atau 11-12 cm. Karena jika langsung menggunakan pelet kering masih terlalu besar untuk ikannya. “Harusnya kan di awal menggunakan pakan ukuran 2 mm, karena baru 2 hari di kolam. Nanti kalo udah 2 minggu baru bisa pake yang 3 mm. Tapi mereka punya sugesti sendiri dan selama hasilnya bagus, silakan saja. Karena memang semakin halus semakin bagus agar dicerna oleh ikannya juga hampir sempurna,” urai H. Usman.
Rata-rata untuk pemeliharaan 1000 ekor bibit, membutuhkan 3 karung pakan. Jika pelihara 30 ribu ekor, maka minimum membutuhkan 90 karung pakan. H. Usman menjelaskan, 90 karung pakan biasanya menghasilkan 75% size konsumsi, 15% size sangkal/ kecil dan 5% size BS atau yang berukuran besar. “Nah biasanya pembudidaya gak mau ukuran sangkal/ kecilnya masih banyak, maksimal 10 kg saja kalo bisa. Karena kan yang size kecil ini masih harus dipelihara, kasi pakan lagi. Jadi pembudidaya ini juga punya strategi, budidaya ditahan sampai habis 120 karung pakan, harapannya nanti pas panen yang kecil tinggal 5% lah,“ jelas H. Usman.
Lele Bersertifikat
Jauh ke depan, H. Usman punya impian, suatu hari nanti ikan lele bisa memiliki value yang lebih tinggi. Menurutnya hal ini mungkin, asalkan ada sinergi berbagai pihak, salahsatunya pabrik pakan. Ia mendorong pabrik pakan juga melakukan sosialisasi benefit menggunakan pakan pelet dibanding pakan dari limbah untuk budidaya lele. Tentunya harus dibedakan juga antara pakan alternatif seperti daging, sosis, dengan yang benar-benar limbah seperti telor busuk, ayam mati, dll.
Begitu pula dengan pemerintah, Ia berharap suatu hari akan ada misalnya sertifikat layak pakan untuk ikan lele yang dijual. Misalnya, Ia mencontohkan, lele yang dijual dapat ditelusuri sudah menggunakan pakan yang layak dan tidak berasal dari limbah serta pembudidayanya sudah mendapatkan sertifikat CBIB. “Jadi lele yang tadinya persepsi di mata konsumen jelek, kotor, sudah tidak akan ada lagi persepsi itu. Sehingga konsumen jadi lebih nyaman, value lele juga meningkat,” harapnya.







