Sebagai pembudidaya lele dengan sistem kemitraan dan juga plasma yang menaungi banyak kolam budidaya lele, jaminan ketersediaan pakan menjadi salahsatu faktor penting dalam memilih pakan lele untuk budidaya. Demikian disampaikan Haji Usman, pembudidaya lele di Parung, Bogor, Jawa Barat. Hal ini pula yang mendasari keputusannya menjadi agen pakan. Bukan sekadar ingin harga murah, tapi Ia ingin memastikan ada jaminan ketersediaan pengiriman pakan. “Kalo udah kerjasama dan ternyata ada kendala produksi, maka pabrik juga akan ada tanggung jawabnya,” kata H. Usman.
Diakuinya, sekitar 80% biaya produksi budidaya lele adalah untuk pakan, sisanya baru bibit, dan lain-lain. Itulah kenapa Ia sangat berharap kualitas pakan dari sisi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, dll bisa stabil. “Standar protein pakan yang saya gunakan di kisaran 32-34%, dan rata-rata memang semua pakan punya yang protein segitu. Yang jadi tantangan, kualitasnya atau formulasinya tidak selalu konsisten sepanjang tahun. Bisa saja karena ada kendala bahan baku dan hal lainnya,” kisah H. Usman.
Tantangan Memilih Pakan
H. Usman tidak menampik terkadang kualitas pakan mengalami fluktuasi. Ia juga sangat terbuka untuk berdiskusi dengan pabrik pakan untuk melihat faktor apa saja yang mempengaruhi. Ia memisalkan, bulan ini FCR 95 lalu bulan depan 90, Ia ingin tahu apakah penyebabnya pakan atau faktor alam. “Anggaplah pakan stabil dan ideal sepanjang tahun maka bisa kita bilang faktornya adalah alam. Berarti di musim hujan jangan cepet-cepet kasi makannya, kalo musim kemarau sebaliknya. Yang penting ada kesimpulannya,” terang pria kelahiran Balikpapan ini. Sebagai agen pakan dan juga pembudidaya, H. Usman merasa punya kepentingan terhadap kualitas pakan hingga adakalanya Ia melakukan uji lab/ analisis secara mandiri untuk pakan yang digunakannya, salahsatunya analisis proximat.

Menurut H. Usman, salah satu tantangan terberat terkait kualitas dan juga ketersediaan pakan adalah saat badai covid menerpa. Ia memaklumi, saat itu hampir semua orang dan juga usaha mengalami kesulitan, termasuk pabrik pakan yang mungkin kendala utamanya ada di pasokan bahan baku. Bahkan ketika akhirnya harga pakan naik, Ia mengaku senang. “Saya sampaikan ke pembudidaya mitra, kita ini kalo ga ada yang dikorbankan dulu ga bisa bergerak, pabrik pakan sulit memperbaiki nutrisinya karena nilai jual terlalu rendah sehingga kualitas pakan tidak standar, lalu FCR ikan kita jadi 70-80, hancur kita. Pembudidaya memang harus bertahan dulu, harga pakan naik tapi harga ikan tetap. Memang musti begitu prosesnya, harus sabar dulu. Tapi saya buktikan hasilnya emang lebih bagus, terlihat dari FCR nya di atas 90%. Jadi pembudidaya dibanding FCR 80, uangnya sedikit. Lebih baik pakan naik, kualitasnya juga harus naik diikuti harga lele-nya yang juga naik per kg-nya,” kenang H. Usman.
Hitungan Sederhana Penggunaan Pakan Pelet
Budidaya lele hanya menggunakan pakan full pelet sudah diterapkan H. Usman sejak mulai usaha ini. Berdasarkan perhitungannya, pembudidaya masih bisa untung dengan penggunaan pakan full pelet. Ia memberikan contoh sederhana perhitungannya. Pertama Ia menghitung biaya operasional untuk panen lele konsumsi, BS (ukuran besar) dan juga lele pangkal/sangkal (ukuran kecil). Menurutnya jika saat panen masih banyak yang sangkal maka akan rugi, sedangkan BS masih ada untung walaupun sedikit.
Misal untuk mendapatkan lele konsumsi sekilo 8 ekor dengan anggapan FCR dan SR-nya ideal 100%. Modalnya adalah Rp 250 (harga bibit) x 8 ekor = Rp. 2000, pakan 1 kg Rp 12.000/ kg, biaya panen Rp. 300/ kg, total sudah Rp. 14.300. Dijual dengan harga Rp. 20.500/kg, jadi untungnya sekitar Rp. 6000. Jika bibit dianggap mati 20% dari 10 ekor tinggal 8, modal bibit Rp. 250 x 10 ekor = Rp. 2.500, FCR 90% berarti pakan jadi Rp. 13.200, biaya panen Rp. 300/kg, total Rp. 16.000. Dijual dengan harga Rp. 20.500/kg, jadi untungnya sekitar Rp. 4000.
“Nah kalo masih banyak yang jadi sangkal/ lele kecil, itu harganya biasanya Rp. 16.000, modalnya tadi ada yang Rp. 16.000, itungannya rugi. Kalo yang BS (sekilo 4 ekor), modalnya Rp. 14.500, harga jual di Rp. 15.500, masih ada untung Rp. 1000. Biaya tenaga kerja dihitung nol karena ngasi pakan sendiri,” urai H. Usman.
Sempat Gunakan Autofeeder
H. Usman merupakan pembudidaya yang sangat terbuka dengan inovasi teknologi di bidang budidaya salahsatunya terkait penggunaan autofeeder. Sempat menggunakan beberapa unit autofeeder beberapa tahun lalu, diakuinya alat tersebut merupakan terobosan inovasi yang bisa sangat membantu pembudidaya dalam hal program pemberian pakan. “Tapi memang saat itu masih ada gap teknologi dari para pembudidaya saya sehingga kesulitan beradaptasi. Bisa dibilang terlalu canggih lah untuk saat itu. Saran saya bisa fokus di timer dan volumenya, misal pagi jam 8 volume sekian, nanti jam 2 sekian. Karena nafsu makan ikan ga sepanjang waktu sama. Pagi dan malam beda. Lele ini paling suka makan di malam hari, nah itu pembudidaya udah ga ada kan kalo malam. Disinilah peran mesin ini akan sangat membantu, pembudidaya tinggal isi aja tempat pakannya,” saran H. Usman.
Tantangan Memilih Pakan
H. Usman tidak menampik terkadang kualitas pakan mengalami fluktuasi. Ia juga sangat terbuka untuk berdiskusi dengan pabrik pakan untuk melihat faktor apa saja yang mempengaruhi. Ia memisalkan, bulan ini FCR 95 lalu bulan depan 90, Ia ingin tahu apakah penyebabnya pakan atau faktor alam. “Anggaplah pakan stabil dan ideal sepanjang tahun maka bisa kita bilang faktornya adalah alam. Berarti di musim hujan jangan cepet-cepet kasi makannya, kalo musim kemarau sebaliknya. Yang penting ada kesimpulannya,” terang pria kelahiran Balikpapan ini. Sebagai agen pakan dan juga pembudidaya, H. Usman merasa punya kepentingan terhadap kualitas pakan hingga adakalanya Ia melakukan uji lab/ analisis secara mandiri untuk pakan yang digunakannya, salahsatunya analisis proximat memilih pakan untuk kucing persia.

Menurut H. Usman, salah satu tantangan terberat terkait kualitas dan juga ketersediaan pakan adalah saat badai covid menerpa. Ia memaklumi, saat itu hampir semua orang dan juga usaha mengalami kesulitan, termasuk pabrik pakan yang mungkin kendala utamanya ada di pasokan bahan baku. Bahkan ketika akhirnya harga pakan naik, Ia mengaku senang. “Saya sampaikan ke pembudidaya mitra, kita ini kalo ga ada yang dikorbankan dulu ga bisa bergerak, pabrik pakan sulit memperbaiki nutrisinya karena nilai jual terlalu rendah sehingga kualitas pakan tidak standar, lalu FCR ikan kita jadi 70-80, hancur kita. Pembudidaya memang harus bertahan dulu, harga pakan naik tapi harga ikan tetap. Memang musti begitu prosesnya, harus sabar dulu. Tapi saya buktikan hasilnya emang lebih bagus, terlihat dari FCR nya di atas 90%. Jadi pembudidaya dibanding FCR 80, uangnya sedikit. Lebih baik pakan naik, kualitasnya juga harus naik diikuti harga lele-nya yang juga naik per kg-nya,” kenang H. Usman.
Hitungan Sederhana Penggunaan Pakan Pelet
Budidaya lele hanya menggunakan pakan full pelet sudah diterapkan H. Usman sejak mulai usaha ini. Berdasarkan perhitungannya, pembudidaya masih bisa untung dengan penggunaan pakan full pelet. Ia memberikan contoh sederhana perhitungannya. Pertama Ia menghitung biaya operasional untuk panen lele konsumsi, BS (ukuran besar) dan juga lele pangkal/sangkal (ukuran kecil). Menurutnya jika saat panen masih banyak yang sangkal maka akan rugi, sedangkan BS masih ada untung walaupun sedikit.
Misal untuk mendapatkan lele konsumsi sekilo 8 ekor dengan anggapan FCR dan SR-nya ideal 100%. Modalnya adalah Rp 250 (harga bibit) x 8 ekor = Rp. 2000, pakan 1 kg Rp 12.000/ kg, biaya panen Rp. 300/ kg, total sudah Rp. 14.300. Dijual dengan harga Rp. 20.500/kg, jadi untungnya sekitar Rp. 6000. Jika bibit dianggap mati 20% dari 10 ekor tinggal 8, modal bibit Rp. 250 x 10 ekor = Rp. 2.500, FCR 90% berarti pakan jadi Rp. 13.200, biaya panen Rp. 300/kg, total Rp. 16.000. Dijual dengan harga Rp. 20.500/kg, jadi untungnya sekitar Rp. 4000.
“Nah kalo masih banyak yang jadi sangkal/ lele kecil, itu harganya biasanya Rp. 16.000, modalnya tadi ada yang Rp. 16.000, itungannya rugi. Kalo yang BS (sekilo 4 ekor), modalnya Rp. 14.500, harga jual di Rp. 15.500, masih ada untung Rp. 1000. Biaya tenaga kerja dihitung nol karena ngasi pakan sendiri,” urai H. Usman.
Sempat Gunakan Autofeeder
H. Usman merupakan pembudidaya yang sangat terbuka dengan inovasi teknologi di bidang budidaya salahsatunya terkait penggunaan autofeeder. Sempat menggunakan beberapa unit autofeeder beberapa tahun lalu, diakuinya alat tersebut merupakan terobosan inovasi yang bisa sangat membantu pembudidaya dalam hal program pemberian pakan. “Tapi memang saat itu masih ada gap teknologi dari para pembudidaya saya sehingga kesulitan beradaptasi. Bisa dibilang terlalu canggih lah untuk saat itu. Saran saya bisa fokus di timer dan volumenya, misal pagi jam 8 volume sekian, nanti jam 2 sekian. Karena nafsu makan ikan ga sepanjang waktu sama. Pagi dan malam beda. Lele ini paling suka makan di malam hari, nah itu pembudidaya udah ga ada kan kalo malam. Disinilah peran mesin ini akan sangat membantu, pembudidaya tinggal isi aja tempat pakannya,” saran H. Usman.
Ia juga menyoroti dari sisi jangkauan atau lontaran pakan yang harapannya bisa dipertahankan. Menurutnya jika jangkauannya bisa dipertahankan, maka bisa bermanfaat membuat ikan lebih seragam sehingga akan mengurangi kanibalisme. “Kelebihannya autofeeder ini juga kan terukur ya volume pakannya. Misal takarannya benar-benar 10 kg, maka ikan tidak akan sampai kekenyangan dan mengakibatkan kematian. Kalo manusia yang ngasi pakan kan tidak diukur, keliatannya lapar, terus aja dikasi. Padahal lele tidak akan berhenti makan selama ada pakan yang dituang. Akibatnya perutnya gede, gelembung, mati. Kalo dia ga mati, makanan di perutnya dimuntahin lagi, dan pakan akan turun ke dasar kolam lalu jadi amoniak dan jadi racun. Jadi kalo semua sudah disempurnakan, akan sangat bermanfaat autofeeder ini,” pungkasnya.







