Kucing Pasca Melahirkan: Waspada Eklampsia dan Mastitis

Induk kucing Anda melahirkan 5 anak 3 hari lalu. Hari pertama masih baik – makan, menyusui, membersihkan anak-anaknya. Hari ketiga tiba-tiba gemetar, tidak mau bangun, dan menolak mendekati anaknya. Pemilik di sebelah rumah bilang “cuma kelehatihan, biar saja.” Dua jam kemudian induk kejang dan tidak bisa berdiri. Eklampsia postpartum pada kucing bisa dari gejala ringan ke kritis dalam 4-6 jam – dan penyebabnya bukan kelelahan, tapi kadar kalsium darah yang anjlok drastis selama laktasi. Artikel ini membahas tiga komplikasi pasca-melahirkan yang sering tertukar: eklampsia, mastitis, dan agalactia.

Apa yang normal dan tidak normal pasca-melahirkan

Baseline normal 1-14 hari pasca-partus: induk kucing mungkin sedikit lesu 24-48 jam pertama, nafsu makan meningkat bertahap (butuh 2-3x maintenance calorie untuk laktasi), suhu tubuh 38.0-39.0°C, vagina discharge berdarah-hitam selama 3-5 hari (lochia, normal). Induk akan menghabiskan 70% waktu untuk menyusui dan merawat anak, 20% makan/minum, 10% istirahat terpisah dari anak.

Yang TIDAK normal dan butuh evaluasi: suhu >39.5°C atau 24 jam, gemetar/tremor, kejang, discharge vagina berbau busuk atau berdarah segar >5 hari, induk mengabaikan anak sepenuhnya, atau anak kucing menangis terus-menerus (tanda lapar = induk tidak produksi susu). Satu gejala saja dari daftar ini = hubungi dokter hewan, bukan tunggu.

Periode paling kritis: minggu ke-2 sampai ke-4 pasca-melahirkan, saat puncak laktasi. Kebutuhan kalsium untuk produksi susu bisa 5-10x maintenance – dan kalau induk tidak mendapat cukup dari diet atau suplemen, tubuh akan mobilisasi Ca dari tulang terlalu cepat → hypocalemia → eklampsia. Kucing dengan anak banyak (>4) dan diet rendah kalsium (pakan tanpa suplemen, daging tanpa tulang) paling berisiko.

Untuk konteks prenatal dan tanda-tanda mendekati persalinan, baca hamil kucing tanda perawatan – artikel itu membahas fase sebelum melahirkan, artikel ini melanjutkan ke fase pasca-persalinan yang sama kritisnya.

Eklampsia (hypocalcemia) – penyebab, gejala, dan penanganan darurat

Eklampsia = penurunan kadar kalsium ion darah (Ca2+) di bawah 7 mg/dL (normal 9-11 mg/dL). Penyebab: kehilangan Ca melalui produksi susu melebihi asupan dari diet dan mobilisasi dari tulang. Faktor risiko: induk pertama kali melahirkan, anak >4, diet all-meat tanpa suplemen Ca, breed besar (Maine Coon, Ragdoll), riwayat eklampsia sebelumnya.

Gejala bertahap – dan Anda punya jendela 6-12 jam sebelum fase kritis. Fase awal (6-24 jam sebelum kritis): gelisah, napas cepat, jantung berdebar, langkah tidak stabil, menggeram tanpa sebab. Fase lanjut (1-6 jam sebelum kritis): tremor otot (mulai dari wajah, lalu seluruh tubuh), suhu naik >40°C (hyperthermia karena kontraksi otot), muntah, pupil dilatasi. Fase kritis: kejang, opistotonos (kepala mendekuk ke belakang), koma. Kalau sampai fase kritis, mortalitas 20-30% meski ditangani.

Penanganan darurat di rumah sebelum ke dokter: pertama, pisahkan induk dari anak kucing – induk kejang bisa mencabik anak tanpa sadar. Kedua, jaga jalan napas – posisi kepala lebih rendah dari tubuh, jangan masukkan apapun ke mulut. Ketiga, kalau Anda punya calcium boroglukonat (biasanya tersedia di toko ternak/pet shop besar), suntik subkutan 0.5-1 ml untuk kucing 4-5 kg. Ini bisa menyelamatkan nyawa dalam 15-30 menit. Keempat, hubungi dokter hewan – mereka akan lakukan IV calcium gluconat 10% (0.5-1.5 ml/kg, lambat 10 menit, monitor EKG).

Setelah stabil, pencegahan rekurens: suplementasi Ca karbonat 50-100 mg/kg/hari oral, pakan high-Ca (kitten food atau tambahan Ca supplement), dan weaning dini (mulai pisahkan anak dari jam ke-3-4 minggu). Untuk kasus rekuren, dokter mungkin rekomendasikan cesarean section berikutnya dengan suplementasi Ca profilaktik selama kehamilan.

Mastitis – tanda infeksi ambing dan penanganan

Mastitis = infeksi kelenjar susu, biasanya bacterial (Staph, Strep, E. coli) yang masuk melalui puting yang lecet atau luka gigitan anak kucing. Lebih sering terjadi pada 1-2 kelenjar (biasanya kelenjar inguinal yang paling bawah dan paling sering dihisap). Insidensi: 5-10% induk laktasi, lebih tinggi di lingkungan kotor atau kandang lembap.

Tanda klinis: satu atau lebih kelenjar bengkak, merah, panas, nyeri saat disentuh. Induk menolak menyusui dari kelenjar yang terkena – bisa terlihat anak kucing mendekat tapi induk menghindar atau mengeong kesakitan. Susu dari kelenjar terkena bisa berubah warna (kuning, hijau, atau berdarah), menggumpal, atau berbau. Kalau tidak ditangani dalam 24-48 jam: abses → selulitis → sepsis → induk demam >40°C, tidak makan, tidak mau merawat anak.

Penanganan di rumah untuk mastitis ringan (1 kelenjar, induk masih makan, suhu normal): kompres air hangat (40°C) 10 menit, 4x hari. Pompa/susui manual dari kelenjar yang terkena setiap 3 jam untuk buang susu yang terinfeksi. Beri anak kucing menyusu dari kelenjar sehat dulu. Jaga kandang bersih dan kering. Kalau 12 jam tidak ada perbaikan, atau induk mulai demam, atau >2 kelenjar terkena – ke dokter hewan untuk antibiotik (amoxicillin-clavulanate 12.5-25 mg/kg PO BID, atau cephalexin 22 mg/kg PO BID). Jangan beri antibiotik manusia – banyak yang toksik untuk kucing.

Biaya penanganan di klinik Jakarta: konsultasi + kompres + pompa 100-200 ribu. Kalau butuh antibiotik + anti-inflammatory: 300-500 ribu. Kalau abses yang perlu drainase: 800 ribu – 1.5 juta. Prognosis baik kalau ditangani dalam 24 jam pertama.

Agalactia dan cara stimulasi produksi susu

Agalactia = tidak ada produksi susu atau produksi sangat kurang. Tiga penyebab utama: (1) medis – eklampsia atau mastitis (penyebab paling sering, 60-70% kasus), (2) nutrisi – induk kurang makan atau diet rendah kalori/protein, (3) psikologis – stres, lingkungan tidak aman, induk pertama kali. Diagnosis: anak kucing menangis terus, tidak gemuk dalam 24 jam (normalnya naik 10-15 gram/hari), induk tidak mau diam di sarang.

Penanganan berdasarkan penyebab. Kalau medis (eklampsia/mastitis) = obati dulu penyakitnya, produksi susu akan pulih setelah induk stabil. Kalau nutrisi: naikkan porsi pakan 2-3x maintenance, ganti ke kitten food (kalori density lebih tinggi), tambah suplemen taurin dan asam lemak omega-3. Kalau psikologis: pastikan kandang di tempat tenang, minim gangguan, suhu 25-28°C.

Stimulasi fisik: pijat lembut ambing dari pangkal ke puting, 5 menit, 4x hari – merangsang oksitosin refleks. Kompres air hangat sebelum menyusui. Beri induk akses air minum bebas – dehidrasi ringan saja sudah bisa turunkan produksi susu 30%. Kalau anak kucing masih tidak dapat cukup susu setelah 12 jam stimulasi: hand-feed dengan KMR (kitten milk replacement) setiap 2-3 jam sebagai supplement.

Kapan ke dokter: induk tidak produksi susu sama sekali >12 jam pasca-melahirkan, anak kucing turun berat badan >10% dari birth weight, atau induk demam/muntah bersamaan dengan agalactia. Dokter bisa lakukan injeksi oksitosin (0.1-0.5 IU IM) untuk stimulasi kontraksi duktus susu, atau IV dehidrasi kalau induk dehidrasi. Lihat juga pakan kucing induk hamil dan menyusui untuk rekomendasi diet yang mencegah agalactia sejak fase kehamilan.

Data patofisiologi eklampsia dan protokol penanganan merujuk pada Textbook of Veterinary Internal Medicine 9th ed (Ettinger & Feldman) serta retrospective study postpartum complications di journal Theriogenology 2022. Insidensi mastitis 5-10% konsisten dengan data dari klinik rujukan hewan kecil di Surabaya dan Jakarta.

Share your love
Pakan Pabrik
Pakan Pabrik

Pakanpabrik.com hadir guna memenuhi kebutuhan informasi seputar pakan ternak [unggas, akuakultur, swine, ruminansia dan petfood].
Dengan segmen yang sangat khusus dan spesifik, pakanpabrik.com menyajikan serba-serbi industri pakan ternak dan hewan kesayangan Anda.

Articles: 597