Upaya Hadapi Gejala PMK dengan Perketat Biosekuriti dan Perkuat Antibodi

Wabah Foot and Mouth Disease atau yang lebih dikenal dengan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) per 13 Juni lalu telah menyebar di 18 provinsi dan 180 kabupaten. Dari pantauan data iSIKHNAS (Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional) yang disampaikan oleh  Kuntoro Boga Andri, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan RI pada 13/6 lalu melalui kanal YouTube Kementerian Pertanian RI, jumlah hewan sakit mencapai 180.630 ekor. Sementara hewan sembuh sebanyak 39.887 ekor, 695 ekor hewan mati dan sebanyak 893 ekor hewan ternak masuk kategori potong bersyarat.

Kementan sendiri, menurut Andri, telah mengeluarkan berbagai bentuk kebijakan dan aturan guna mengendalikan situasi wabah PMK di tanah air dengan membentuk gugus tugas pelaksanaan nasional mulai dari provinsi dan kabupaten. Kementan juga melakukan penataan hewan lalu lintas produk hewan rentan PMK dan media pembawa lainnya di daerah wabah penyakit PMK.

“Kami melibatkan pemerintah daerah, Polisi dan TNI, Kejati dan Kejari di dalam penanganan wabah PMK ini. Kami telah mengeluarkan prosedur dan pelaksanaan pemotongan hewan kurban dalam wabah PMK,” jelas Andri.

Diduga Gejala PMK

Virus PMK menyerang hewan ternak tanpa pandang bulu, semua hewan ternak berkaki empat terutama sapi, baik sapi potong dan perah. Peternak dengan beragam skala pun terkena tak terkecuali salah satu kandang peternak sapi di daerah Jonggol, Jawa Barat yang dikelola oleh Fauzi. Dia mencoba mengingat ketika pertama kali sapi di kandangnya mulai muncul tanda-tanda penularan virus PMK.

Fauzi mengingat, ketika Pasar Hewan Jonggol buka pada 25 Mei lalu, seorang tetangga yang memiliki kandang sekitar 1 kilometer dari kandangnya membeli sapi keesokan harinya. Selang 2 hari, sapi kecil yang ada dikandangnya menampakkan tanda serangan virus PMK. Ia pun merelokasi sapi sakit ke kandang karantina, dengan harapan dapat menyelamatkan sapi yang lain agar tidak tertular. Namun, ganasnya virus PMK memang tak berkompromi. Selang beberapa hari, sapi-sapi yang sehat mulai menunjukkan gejala sakit. Dari 1 ekor, lalu 22 ekor lainnya pun telah tertular.

Pada PakanPabrik.com, Fauzi menuturkan, gejala PMK yang dialaminya tidak separah yang dialami oleh peternak lain. Sapi kecil yang diduga terkena PMK menunjukkan gejala demam hingga 41 oC, mulut berbusa dan keluar lendir dari saluran hidung dan mulut. Dugaan Fauzi sapi di kandangnya terkena PMK makin kuat, ketika sapi yang dibeli oleh tetangganya dinyatakan positif PMK oleh dinas terkait.

Jaga Biosekuriti dan Kuatkan Antibodi

Tak patah arang, Fauzi berkeyakinan dapat melalui krisis ini dengan selamat. Ia pun mencoba berbagai macam cara, mulai dengan menerapkan biosekuriti di kandangnya dengan pembatasan akses orang masuk dan keluar, serta menerapkan penyemprotan desinfektan ketika hendak masuk kandang. Salah satu hal yang diyakininya adalah dengan membuat ternak sapi senyaman mungkin di kandang bahkan ketika sakit. Sebab itu, ia mengutamakan agar sapi tetap terpenuhi kebutuhan dasarnya agar antibodi tubuh sapi dapat melawan virus yang menyerang.

Awalnya, jalur air minum di kandang Fauzi dibuat satu jalur dengan konsep ad libitum atau tak terbatas. Ketika terjadi, mau tak mau, ia mengubah bak air minum sapinya menjadi bak terpisah. Sirkulasi udara juga diperhatikan olehnya agar sapi terus mendapatkan udara segar. Ketika sapi tidak mau makan karena lidah sapi yang putih dan mengeras, ia pun tak segan untuk mencekoki sapi-sapinya dengan jus kacang hijau.

Jamu herbal untuk membantu meningkatkan antibodi sapi

Guna meringankan demam sapi dan menggertak antibodinya, Fauzi memberikan jamu yang terdiri dari kunyit 1 kg, gula merah ½ kg, godong sinom/ daun asam 1 kg, telur bebek 10 butir, dan perasan 10 butir jeruk nipis. Jamu tersebut dapat digunakan untuk 8 ekor sapi. “Penggunaan telur bebek hanya untuk yang parah saja. Sudah mulai baik tidak usah pakai telur,” terang dia.

Pemberiannya pun rutin setiap hari sebelum diberi pakan.  Ia mengklaim, sapi-sapinya yang terluka menjadi cepat sembuh lukanya. Jamu tersebut juga membuat sehat saluran pencernaannya. Sehingga stamina sapi cepat pulih dan otomatis imunnya terjaga.

Jamu tersebut diminumkan ke sapi dengan bantuan botol kaca dengan mulut botol yang lebar, sehingga tidak melukai sapi dan dapat dengan mudah ditelan oleh sapi. Ia memang hanya menemukan 1 botol yang sesuai di kandangnya, sehingga dia pun harus bergantian menggunakan botol yang sama saat memberikan jamu. “Jangan lupa mencuci bersih botol yang telah dipakai dengan air yang mengalir sebelum memberikan jamu ke sapi yang lain,” pesannya.

Hasilnya tak disangka, keuletan dan keyakinan Fauzi membuahkan hasil. Kini sapi-sapinya telah sehat dan tidak ada kematian yang terjadi.  Ia pun siap menyambut lebaran kurban tahun ini. (RZ)

Share your love
Pakan Pabrik
Pakan Pabrik

Pakanpabrik.com hadir guna memenuhi kebutuhan informasi seputar pakan ternak [unggas, akuakultur, swine, ruminansia dan petfood].
Dengan segmen yang sangat khusus dan spesifik, pakanpabrik.com menyajikan serba-serbi industri pakan ternak dan hewan kesayangan Anda.

Articles: 541