Memasuki musim kemarau, ada beberapa hal yang harus disiapkan oleh petambak. Menurut Khamim Khusaini, teknisi pendampingan di tambak Aretha Farm Lombok, persiapan budidayanya cenderung tidak jauh beda dengan saat akan budidaya di musim hujan. Ia menjelaskan, perbedaan utama ada pada penggunaan CaCO3 dan CaO (kapur aktif) yang pada musim hujan konsentrasinya akan dikurangi karena saat itu biasanya lumut akan tumbuh. Perbandingan CaO dengan CaCO3 yang digunakan saat budidaya di musim kemarau sekitar 40:60% dari total pemakaian 200 ppm per kolam ukuran 2500 m2. Di musim hujan, konsentrasinya bisa dikurangi hingga 30% untuk CaO-nya. “Tetapi tiap teknisi biasanya punya referensi yang berbeda tergantung pengalaman yang biasanya disesuaikan dengan area/ wilayah budidayanya,” jelas pria yang akrab disapa Amik ini.
Saat persiapan kolam, penggunaan kapur berfungsi untuk menaikkan pH dan juga menaikkan alkalin agar keadaan air seimbang untuk kehidupan udang. Amik menjelaskan, pertama kapur dioleskan pada HDPE sebelum tambak diisi air kemudian dikeringkan. Selisih setengah hari, baru air masuk. Tidak hanya tambak budidaya, menurut Amik kolam tandon juga perlu diberikan kapur aktif guna menaikkan alkalinitas yang bermanfaat menjaga kestabilan kesehatan udang saat molting. Bahkan treatment ini juga diklaim bisa menekan gejala AHPND.
Pembentukan Plankton dengan Metode Semi Symbiotic
Plankton merupakan pakan alami bagi udang dan dapat digunakan sebagai indikator kualitas air tambak. Amik melakukan pembentukan plankton dengan metode semi symbiotic. Symbiotic, dijelaskan Amik merupakan istilah untuk peraman yang dikultur. Peraman ini berisi katul yang diperam dan dicampur probiotik kemudian dikultur. Bahan untuk peraman biasanya menggunakan katul yang halus, tetapi bisa juga menggunakan dedak kemudian dicampur, ragi dan probiotik yang mengandung Bacillus. Jika symbiotic isinya lengkap termasuk ada bungkil kedelai, dll, maka semi symbiotic adalah versi ekonomisnya yang hanya mengandung dedak padi/ katul, probiotik Bacillus dan vitamin B.

Dalam 1 kolam berukuran 2500 m2, Amik menambahkan peraman yang telah dikultur sebanyak 1 ppm. 1 ppm peraman yang telah dikultur selama 48 jam menghasilkan 35 liter, itulah yang dimasukkan ke dalam kolam. Adapun perlakuan terhadap air ini fungsinya untuk membentuk plankton yang menguntungkan serta menghindari BGA (Blue Green Algae). Sebenarnya, kata Amik, tanpa perlakuan pada air, budidaya tetap bisa berjalan. Hanya saja nanti banyak mikroorganisme air yang muncul spt BGA, protozoa, dll. “Dengan pemberian probiotik yang terdapat dalam campuran, maka green algae akan tumbuh termasuk Chaetoceros sp., dll. Biasanya ditandai dengan warna air kolam yang hijau kecokelatan itu artinya green algae-nya tinggi. Ini nantinya akan menjadi pakan alami untuk benur,” terang pria yang merupakan bagian dari tim teknisi TKT PT Suri Tani Pemuka ini. Amik juga mengingatkan untuk selalu menjaga kestabilan pH tambak di range 0,3. Misal pH tambak di pagi hari 7,8 maka saat pengecekan di sore hari upayakan pH nya maksimal di 8,1.
Tebar Benur
Saat benur datang, jika menggunakan metode langsung tanpa alat, maka pertama-tama cek keadaan plastik berisi benur. Jika plastiknya sudah mulai keluar embun maka itu sudah mendekati suhu air tambak. Minimal ditunggu hingga 10 atau 15 menit baru kemudian tebar benurnya. Jika tebar menggunakan conical tank bisa ditambahkan vitamin atau obat antri stres lainnya, yang esensinya untuk menguatkan imun benur. Kemudian gunakan pompa/ aerasi, biarkan airnya mengalir hingga suhunya sama. Jika suhu mendekati sama maka bisa tebar.
Amik mengingatkan titik rawan budidaya udang adalah setelah tebar benur. Di kondisi sekarang, jelas Amik, biasanya mulai 20 hari karena rata-rata AHPND itu di atas 20 – 40 hari. Setelah 40 hari ke atas tantangannya Myo. “Titik aman itu di 20 gram atau size 50 InsyaAllah udah aman,” klaimnya. Sebagai antisipasi, Amik menjaga kualitas air kolam dan air tandon dengan menambahkan air ke tandon setiap hari agar tidak susut yang mungkin disebabkan kebocoran kolam, dll. “Yang terpenting kualitas air kolam harus stabil. Jangan sampai planktonnya goyang, dari hijau ke cokelat ke hijau lagi. Itulah kenapa harus dicek setiap hari pagi dan sore, mulai dari kecerahan, pH, dan semua parameter kualitas air lainnya. Jika planktonnya pekat harus diwaspadai,” urainya.
Untuk padat tebar 170/m2 Amik menyarankan menggunakan 12 kincir karena umumnya per 1 HP kincir maksimal 25 ribu ekor. Jika padat tebarnya lebih tinggi maka di size 90 harus panen parsial. Amik juga menyampaikan tips memilih benur yaitu dengan mengecek kelincahannya serta bersertifikat. Pun begitu, walaupun lincah, jika airnya kurang maksimal maka hasilnya akan sama saja. “Jadi harus seimbang, dari hatchery harus menyediakan benur yang lincah dan bersertifikat, si petambak harus menjaga kualitas air kolamnya,” tegas Amik.








