Pakan Nila Tinggi Protein Cocok pada Kolam dengan Kelarutan Oksigen Tinggi

Nutrisi memang memegang peranan penting dalam keberhasilan budidaya ikan, termasuk ikan nila. Namun peran itu perlu dioptimalkan dengan memerhatikan faktor-faktor pendukungnya, yakni kondisi kualitas air dan manajemen pemberian pakannya itu sendiri. Hal itu disampaikan oleh pembudidaya ikan nila di Tasikmalaya, Jawa Barat, Daru Handoko.

Perhatikan Kondisi Air

Seperti diketahui, budidaya ikan nila dapat dilakukan dalam berbagai sistem dan media. Antara lain secara tradisional pada kolam tanah, maupun secara intensif pada kolam air deras, kolam bundar, keramba jaring apung (KJA), hingga kolam dengan menggunakan teknologi kincir seperti yang dilakukan oleh Daru.

Menurut pria asli Gunung Kidul, Yogyakarta ini, sistem budidaya dan kondisi kualitas air terutama parameter oksigen terlarut (dissolved oxygen/DO), sangat mempengaruhi ikan terhadap kebutuhan nutrisinya. Pada kualitas DO yang baik, seperti di atas 4 ppm, ikan nila cocok diberi pakan dengan kandungan protein yang relatif tinggi. Alasannya karena kondisi air pada DO tinggi memungkinkan ikan untuk bisa makan lebih banyak.

Dari pengamatannya di lapangan, ia menduga pada kondisi air optimal, daya cerna ikan terhadap pakan cenderung lebih tinggi. Sehingga, proses makan menjadi lebih cepat dan pemberian pakan dengan kadar protein tinggi juga jadi tepat. Dengan sistem budidaya intensif dan menggunakan kincir, memungkinkan DO air ada di kisaran 4 ppm, sehingga Daru sendiri nyaman menggunakan pakan nila berprotein tinggi sekitar 28 – 30 persen.

Sebaliknya, pada kondisi air dengan DO rendah, seperti pada kolam tanah dengan tingkat sirkulasi air yang rendah, proses makan ikan cenderung lebih lambat. “Semakin oksigen kurang, daya cerna juga menjadi lambat. Coba saja kita habis lari terus nafas ngos-ngosan, disuruh makan. Pasti susah,” ujarnya menganalogikan.

Sehingga pada kondisi air dengan DO rendah, proses makan jadi kurang optimal. Hal ini bisa berisiko buruk apabila pakan yang diberikan terlalu banyak, apalagi berprotein tinggi. Daru mengungkapkan bahwa, pakan protein tinggi yang tidak termakan oleh ikan di kolam minim oksigen bisa meningkatkan kadar amonia dalam air jadi tinggi sehingga semakin membuat ikan tidak nyaman. Dan tidak menutup kemungkinan menyebabkan kematian pada ikan.

Oleh karenanya, sambung Daru, pada air dengan tingkat DO rendah, pembudidaya lebih disarankan untuk menggunakan pakan berprotein rendah agar kualitas air tetap stabil. Namun konsekuensinya pertumbuhan ikan jadi lebih lambat dan proses budidaya jadi relatif lebih lama.

Manajemen Pemberian Pakan

Selain kondisi air, manajemen pemberian pakan juga turut mengoptimalkan peran nutrisi pada pakan. Dan manajemen pemberian pakan ini tentu berbeda bagi setiap spesies maupun stadianya.

Dari hasil studi literatur dan percobaan langsung di kolam miliknya, Daru yakin bahwa ikan nila pada tahap pendederan optimal diberi pakan sebanyak 5 persen per hari dari total biomassanya. Sementara pada fase pembesaran, pakan harian yang diberikan optimalnya sebanyak 3 persen dari biomassa. “Artinya, jika biomassa ikan pembesaran itu 100 kg misalnya, maka pakan yang diberikan per hari itu adalah 3 kg. Tinggal dibagi berapa kali pemberian dalam setiap harinya,” ujarnya.

Daru Handoko. Foto dok : @AsepBulkini

Untuk frekuensi pemberiannya sendiri, Daru memilih melakukannya 2 kali sehari sekitar jam 8 pagi dan 3 sore. Hal ini didasarkan pada pengamatannya terhadap daya cerna ikan. Menurutnya, ikan nila bisa mencerna pakan secara sempurna paling cepat dalam waktu enam jam.  Menurutnya, lama pencernaan ini penting diketahui para pembudidaya agar pakan yang diberikan optimal. Ia juga berpesan, jangan sampai pakan belum selesai dicerna namun sudah dijejali lagi pakan baru. Sehingga pakan bisa tidak termakan dan membuat FCR jadi bengkak.

Untuk mengetahui tingkat kecernaan pakan oleh ikan nila, selain dengan dibelek langsung dan dilihat organ pencernaannya, bisa juga diamati melalui kotoran ikan seperti yang dilakukan oleh Daru. Dari pengamatannya itu ia menyimpulkan bahwa pakan yang dicerna dengan baik akan menghasilkan kotoran berwarna pekat kehitaman dan pendek-pendek. Sementara pakan yang tidak dicerna dengan baik, kotorannya cenderung berwarna putih dan panjang.

“Kotoran pendek-pendek itu artinya pakan memang sudah tercerna dengan baik oleh tubuh ikan sehingga yang keluar hanya sisa-sisa metabolismenya, bukan keluar karena terdorong oleh pakan yang baru masuk,” ujarnya.

Sementara untuk penentuan waktu pemberiannya, ia memilih jam 8 pagi dan 3 sore karena air kolam dalam kondisi hangat, sebagaimana ia yakin bahwa ikan akan lahap makan pada kondisi air yang hangat. “Tidak terlalu panas, juga tidak terlalu dingin,” katanya.

Selain bisa mengoptimalkan nutrisi pada pakan, manajemen pemberian pakan yang efektif juga bisa mempersingkat waktu budidaya sehingga dari sisi waktu pun menjadi lebih efisien dan siklus produksi dalam satu tahun bisa lebih banyak. Dengan sistem tersebut, Daru bisa memanen ikan dengan ukuran minimal 8 ekor/kg (125 gram) dalam waktu kurang lebih 2 bulan dari tebar ukuran 80 ekor/kg (12,5 gram). AB

Share your love
Pakan Pabrik
Pakan Pabrik

Pakanpabrik.com hadir guna memenuhi kebutuhan informasi seputar pakan ternak [unggas, akuakultur, swine, ruminansia dan petfood].
Dengan segmen yang sangat khusus dan spesifik, pakanpabrik.com menyajikan serba-serbi industri pakan ternak dan hewan kesayangan Anda.

Articles: 541