Manajemen pemberian pakan di dalam budidaya udang merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya. Manajemen pakan udang yang kurang baik berisiko menjadi kerugian besar mengingat biaya pakan dalam budidaya bisa mencapai ⅔ dari total biaya produksi.
Oleh karena itu, menurut dosen Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP) Jakarta, Suharyadi, untuk mencapai manajemen pakan yang optimal dalam budidaya udang, sedikitnya ada tiga hal penting yang harus diperhatikan oleh para petambak. Mulai dari memilih jenis pakan, mengatur jumlah pakan, hingga cara pemberiannya.
1. Memilih Jenis Pakan Udang Berdasarkan Umur Budidaya
Menurut Suharyadi, terdapat tiga jenis pakan buatan untuk udang vannamei berdasarkan peruntukannya selama budidaya. Ketiganya antara lain pakan starter (untuk masa awal budidaya), grower (untuk masa pertumbuhan), dan finisher (menjelang panen). Setiap jenis tersebut memiliki bentuk dan kandungan nutrisi yang berbeda-beda sesuai kebutuhan udang di setiap fase budidaya.
Lihat: Jenis Pakan Pelet Untuk Udang
Semakin awal masa budidaya, ukuran pakan semakin kecil menyesuaikan dengan bukaan mulut udang. Pakan starter udang umumnya berbentuk powder (serbuk) dan crumble berukuran 1,6 mm. Sementara pakan grower dan finisher berbentuk pelet berukuran di atas 1,6 mm.
Selain berbeda ukurannya, jenis-jenis pakan tersebut juga memiliki kandungan nutrisi, terutama protein, yang berbeda. Pakan starter cenderung memiliki protein yang lebih tinggi dibanding pakan grower dan finisher. Pakan starter biasanya mengandung protein 32 persen, sementara pakan grower dan finisher mengandung protein sekitar 30 dan 28 persen.
Menurut Suharyadi, pakan pabrik untuk udang vannamei sudah memiliki kandungan nutrisi yang lengkap sesuai dengan standar minimal kebutuhan udang. Namun demikian, petambak juga bisa meningkatkan optimasi pakan tersebut dengan menambah imbuhan pakan seperti bakteri probiotik, feed additive, maupun vitamin.
“Bisa juga dilakukan optimasi dalam pemberian pakan dengan melakukan fermentasi, dengan cara mencampur beberapa bakteri tertentu untuk mempercepat proses penyerapan saat makan oleh pencernaan udang. Biasanya dengan bakteri Lactobacillus, Saccharomyces, dan bakteri menguntungkan lainnya yang bisa membantu proses pencernaan. Fermentasi minimal 2 jam sebelum pemberian pakan,” ujar Suharyadi dalam webinar pelatihan udang yang diadakan Politeknik AUP Jakarta beberapa waktu lalu.
2. Mengatur Jumlah Pakan Udang
Mengacu pada prosedur pemberian pakan udang di Standar Nasional Indonesia (SNI), Suharyadi menjelaskan bahwa pakan powder diberikan pada umur budidaya (day of culture/DOC) 0-15 hari, sementara pakan crumble diberikan pada DOC 16-45 hari, dan pakan pelet dari DOC 46 hingga menjelang panen.
Untuk jumlah pemberiannya sendiri, selama DOC 0-15, pakan powder yang diberikan sebanyak 75-15 persen dari biomassa udang. Namun pada masa awal budidaya ini, petambak biasanya menggunakan metode blind feeding selama kurang lebih 1 bulan , dengan mengestimasi jumlah pakan berdasarkan populasi udang yang ditebar. Secara sederhana Suharyadi menjelaskan bahwa untuk setiap 100 ribu ekor benur yang ditebar, pakan yang diberikan pada hari pertama blind feeding adalah 3 kg/hari. Jumlah tersebut kemudian ditambah 200 g setiap hari hingga DOC 10 dan kelipatan 200 g untuk tiap 10 hari berikutnya.
Jumlah penambahan pakan udang selama blind feeding
| Day of culture (DOC) | Jumlah penambahan pakan (g/100 ribu benur/hari) |
| 2 – 10 | 200 |
| 11 – 20 | 400 |
| 21 – 30 | 600 |
| 31 – 40 | 800 |
Setelah metode blind feeding selesai, persentase jumlah pemberian pakan selanjutnya ditentukan berdasarkan biomassa udang hasil sampling. Berikut tabel rekomendasi manajemen pemberian pakan udang yang dirangkum dari SNI 01-7246-2006.
Manajemen pemberian pakan udang berdasarkan SNI 2006
| Day of culture (DOC) | Bobor udang (g/ekor) | Bentuk pakan | Nomor pakan | Feeding rate (persen/biomassa) |
| 0-15 | ≤ 1,0 | Powder | 0 | 75-15 |
| 16-30 | 1,1-2,5 | Crumble | 1, 2 | 25-15 |
| 31-45 | 2,6-5,0 | Crumble | 2 | 15-10 |
| 46-60 | 5,1-8,0 | Pellet | 2, 3 | 10-7 |
| 61-75 | 8,1-14,0 | Pellet | 3 | 7-5 |
| 76-90 | 14,1-18,0 | Pellet | 3, 4 | 5-3 |
| 91-105 | 18,1-20,0 | Pellet | 4 | 5-3 |
| 106-120 | 20,122,5 | Pellet | 4 | 4-2 |
Meski metode tersebut berasal dari SNI, tetapi metode pemberian secara real di lapangan jauh lebih dinamis dan kondisional. Selain menyesuaikan dengan kondisi udang dan lingkungan yang fluktuatif, para teknisi tambak juga biasanya memiliki strategi berbeda-beda dalam mengoptimalkan manajemen pakannya.
3. Cara pemberian pakan udang yang optimal
Selain dilakukan secara manual oleh tenaga feeder atau anak tambak, saat ini pemberian pakan udang juga bisa dilakukan dengan menggunakan mesin autofeeder. Keduanya dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di tambak. Namun menurut Suharyadi, yang terpenting adalah bagaimana pakan tersebut ditebar secara optimal.
Pada saat pemberian pakan starter misalnya, sebaiknya kincir dimatikan dulu selama kurang lebih setengah jam agar arus melemah. Sehingga pakan powder yang diberikan tidak terbawa arus dan mudah dikonsumsi oleh udang, sebab pada masa ini udang masih belum bisa menangkap dengan baik pakan yang diberikan.

Selain itu, petambak juga harus mengetahui area-area pelemparan pakan yang tepat. Menurut Suharyadi, “Area sebaran pakan yang harus kita ketahui. Kita menebar pakan pada pelataran-pelataran di mana di situ tidak terdapat penumpukan limbah bahan organik. Kalau kolam bujur sangkar dengan sistem central drain, otomatis semua bahan organik ngumpul di tengah. Jangan sampai pakan kita lempar ke sana. Sementara udang suka tempat bersih.”
Hal penting lainnya dalam manajemen pemberian pakan adalah cek anco. Aktivitas ini penting dilakukan untuk mengevaluasi pemberian pakan pada saat itu dan sebagai acuan untuk pemberian pakan selanjutnya. Pada proses pengecekan anco juga dapat diketahui apakah udang dapat mengonsumsi pakan dengan baik/tidak. “Ini bisa kita lihat dari ususnya ya. Kalau ususnya cokelat sesuai warna pakan yang dia makan, bisa dipastikan udang itu memakan pakan udang yang kita berikan,” ujar Suharyadi. AB








