Protein adalah pembatas utama kecepatan gemuk pada kambing potong: kekurangan 1% saja bisa mengunci pertambahan bobot harian (ADG) di bawah 60 g per ekor, sementara kelebihan 2% membuang biaya konsentrat lewat urine. Artikel ini merangkum angka kebutuhan protein (PK) 14–16%, sumber lokal yang ramah di kantong, rasio energi yang mencegah terbuang, dan cara racik ransum untuk feedlot kecil 10–20 ekor.
Kenapa Protein Menentukan Kecepatan Gemuk
Angka yang perlu diingat: protein ransum (PK) untuk kambing penggemukan idealnya 14–16%, dengan rata-rata pertambahan bobot harian (ADG) 80–100 gram per ekor per hari pada bobot 15–25 kg (NC State Extension; Merck Veterinary Manual). Di bawah 12% PK, kambing makan banyak tapi daging tidak terbentuk; di atas 18% PK, protein justru terbuang lewat urine karena mikroba rumen sudah jenuh.
Mekanismenya singkat saja: PK menyuplai nitrogen untuk mikroba rumen, dan mikroba itulah yang membangun asam amino di tubuh kambing. Mikroba rumen sendiri 50–60% PK (Merck/MSD Vet Manual), artinya kalau hijauan saja sudah 8% PK, kambing sebenarnya hidup, tapi tidak gemuk.
Untuk konteks biaya, riset Scialert (2016) pada kambing Kacang menunjukkan ADG naik dari 27 g/hari (kelompok kontrol) menjadi 80 g/hari saat sumber protein rumen-undegradable ditambah — hampir 3× lipat dengan biaya konsentrat yang masuk akal, bukan konsentrat paling mahal.
Angka Kebutuhan Protein per Kelas Bobot

Kebutuhan protein berubah mengikuti bobot, bukan umur. Tabel rujukan lapangan dari NRC dan Mercer yang sering dipakai praktisi:
- Cempe sapih (10–15 kg): PK 16–18%, TDN 65–70%, target ADG 100–120 g/hari.
- Remaja (15–20 kg): PK 14–16%, TDN 62–65%, ADG 80–100 g/hari.
- Dewasa muda (20–35 kg): PK 12–14%, TDN 60–62%, ADG 60–80 g/hari.
Kalau hijauan yang tersedia cuma rumput lapangan (PK 7–10%), maka konsentrat wajib mensuplai sisanya. Cara hitung kasarnya: kebutuhan PK = 1,3–1,5% bobot hidup per hari dalam gram; untuk kambing 20 kg, itu sekitar 50–55 g PK murni per hari (Merck Veterinary Manual).
Naikkan atau turunkan konsentrat 0,5% PK saat bobot naik 5 kg, jangan dihitung ulang dari awal tiap hari.
Sumber Protein Lokal: Mana yang Worth It
Sumber protein yang gampang ditemui di Indonesia punya profil berbeda, bukan sekadar “% PK”, tapi juga degradabilitas di rumen:
- Bungkil kedelai: PK 44–48%, sangat mudah dicerna rumen (lebih banyak RDP). Harga indikatif Rp12.000–15.000/kg. Cocok untuk cempe dan performa puncak.
- Ampas tahu kering: PK 22–28%, harga murah, dominan RDP, cepat rusak simpan. Cocok untuk feedlot 10–20 ekor, beli 1–2 hari sekali.
- Tepung ikan lokal: PK 50–60%, RUP tinggi (bypass), ideal dipadu bungkil kedelai. Harga paling mahal, cukup 3–5% ransum.
- Bungkil inti sawit: PK 14–17%, serat kasar 12–18%, harga termurah (Rp5.000–6.000/kg). Sumber protein sedang, cocok sebagai pengisi volume ransum.
- Daun lamtoro/kaliandra: PK 20–28%, gratis kalau ada pagar hidup. RDP tinggi, perlu pelayuan 4–6 jam supaya zat antinutrisi turun.
Campuran yang aman feedlot kecil: 50% bungkil sawit + 30% bungkil kedelai/ampas tahu + 10% dedak + 5% tepung ikan + 5% mineral, PK akhir 15–17%.
Lihat komposisi bahan lebih lengkap di bahan pakan kambing/domba, dan beda konsepnya dengan hijauan ada di konsentrat vs hijauan untuk kambing.
Protein vs Energi: Jangan Meleset Rasio
Sering protein ransum sudah benar 16% PK, tapi ADG tetap di bawah target. Penyebab paling umum bukan proteinnya, tapi energinya: rasio PK:TDN yang ideal 1:4 sampai 1:5 (Merck Vet Manual).
Contoh rasio nyangkut: PK 18% dengan TDN 50% artinya ratio 1:2,8; protein melimpah, energi kurang. Mikroba rumen butuh energi untuk menambat nitrogen; tanpa energi, protein berubah jadi amonia dan keluar urine (bau pesing) → terbuang.
Bidang ini saling memengaruhi: kalau TDN tidak tercapai, naikkan PK justru buang-buang uang. Standar Praktis untuk kambing 15–25 kg: PK 15% + TDN 63% sudah cukup untuk ADG 80 g/hari.
Detail parameter lengkapnya ada di parameter ideal penggemukan. Di sana TDN, SK, Ca/P dibahas terpisah.
Cara Racik Sendiri untuk 10–20 Ekor
Resep ekonomis (untuk bobot total 200 kg/hari, biaya sekitar Rp7.000–8.000 per ekor per hari):
- Rumput lapangan + sedikit daun legum: 60% total ransum.
- Bungkil inti sawit: 20%.
- Dedak halus: 10%.
- Ampas tahu kering: 7%.
- Mineral mix + garam: 3%.
PK ransum sekitar 13%, TDN 58–60%. Cocok untuk kambing 20–35 kg, target harian 60–70 g.
Resep performa (untuk bobot total 200 kg/hari, biaya sekitar Rp11.000–13.000 per ekor per hari):
- Dedak halus: 25%.
- Bungkil kedelai/ampas tahu (setara): 25%.
- Pollard/jagung giling: 25%.
- Bungkil sawit: 15%.
- Tepung ikan: 5%.
- Mineral mix: 5%.
PK sekitar 17%, TDN 65%, target ADG 90–110 g/hari. Pilih salah satu sesuai margin. Jangan naik-turun campur setiap minggu karena mikroba butuh 7–10 hari beradaptasi.
Baca Kambing: Tanda Protein Cukup atau Berlebih
Tanda protein cukup: rambut mulai mengkilat, feses padat dan berwarna gelap, pertambahan 700–900 g per ekor per 7 hari pada kelas 15–20 kg. Untuk kambing bakal bibit, lihat juga cara sortir di pemilihan bibit etawa.
Tanda protein berlebih: urine berbau kuat menusuk, bagian belakang kandang selalu basah, bobot justru turun saat makan banyak. Penyebab paling sering: protein tinggi tapi TDN rendah. Lihat rasio PK:TDN di atas.
Tanda protein kurang: kambing selalu rakus, makan sendiri lebih dari 100 menit per hari, kondisi tubuh kurus walau hijauan berlimpah.
Mineral kadang bikin masalah ikut muncul saat protein diubah di rumen; singkatnya ada di mineral pakan. Penyesuaian: turunkan PK 1–2% kalau urin berbau kuat; naikkan PK 1% kalau rambut kusam dan feses encer.







