Penyakit TDSD pada Udang Vaname: Gejala Dini, Penyebab, dan Pencegahan

Penyakit TDSD atau Translucent Post-Larvae Disease baru dikenal luas sejak 2020-an di kalangan pembudidaya udang vaname Asia. Nama lainnya adalah Glass Post-Larvae Disease karena tubuh udang yang terserang terlihat seperti kaca, tembus cahaya, dan tidak berwarna sepertinormalnya. Angka kematian di fase post-larva bisa mencapai 80-90% jika tidak ditangani sejak dini.

Banyak petambak Indonesia keliru mengidentifikasi TDSD sebagai White Feces Syndrome (WFS) karena keduanya menyerang organ pencernaan. Perbedaannya penting: WFS menampilkan feses putih mengambang, sedangkan TDSD menampilkan tubuh udang yang pucat/translucent meski feses masih berwarna normal. Dua penyakit ini disebabkan bakteri Vibrio yang berbeda dengan mekanisme kerusakan berbeda.

Gejala Dini TDSD: Tubuh Pucat, Hepatopankreas Translucent, Urusan Makan

Gejala paling khas TDSD terlihat pada warna tubuh udang yang berubah pucat hingga transparan. Pada fase post-larva (PL) hingga juvenile awal, tubuh udang yang sehat berwarna kehijauan atau kecokelatan cerah. Udang terserang TDSD kehilangan pigmen tersebut sehingga organ dalam, terutama hepatopankreas dan saluran pencernaan, terlihat tembus pandang saat diamati dari samping.

Tanda kedua adalah hepatopankreas memucat dan mengecil. Normalnya hepatopankreas udang vaname berwarna hijau zaitun hingga cokelat tua. Pada TDSD, warnanya berubah menjadi putih pucat atau keabu-abuan. Ukurannya juga menyusut karena sel-sel hepatosit mengalami nekrosis.

Tanda ketiga yang paling mudah diamati petambak adalah penurunan nafsu makan yang drastis. Udang yang sehat tetap aktif mencari pakan bahkan di kondisi kerapatan tinggi. Udang dengan TDSD berhenti makan beberapa hari sebelum gejala visual tampak jelas. Anoreksia ini terjadi karena kerusakan jaringan pencernaan menghalangi proses absorpsi nutrisi.

Secara perilaku, udang terserang cenderung bergerak lambat dan berkumpul di tepi kolam. Mereka kehilangan kemampuan berenang aktif dan lebih sering terapung di permukaan atau menempel pada dinding kolam. Jika kamu menyentuh tubuh udang yang sakit, dagingnya terasa lebih lembek dibanding normal.

Segera lakukan pengambilan sampel jika kamu melihat tiga gejala ini secara bersamaan pada 5-10 ekor udang dari kolam yang sama. Deteksi dini dalam 48 jam pertama setelah gejala muncul meningkatkan kemungkinan pemulihan signifikan.

Penyebab TDSD: Vibrio parahaemolyticus dengan Gen Virulensi vhvp-2

Penyebab TDSD adalah bakteri Vibrio parahaemolyticus yangmembawa gen virulensi vhvp-2. Gen ini berbeda dengan strain V. parahaemolyticus yang menyebabkan penyakit lain pada udang. Strain vhvp-2 memiliki kemampuan khusus untuk menyerang jaringan hepatopankreas dan saluran pencernaan tanpa menimbulkan gejala peradangan eksternal yang signifikan di tahap awal.

Mekanisme infeksi dimulai ketika bakteri masuk melalui mulut bersama pakan atau air yang terkontaminasi. Setelah mencapai usus, V. parahaemolyticus vhvp-2 menempel pada epitel usus menggunakan adhesin khusus. Dari sana, bakteri menembus dinding usus dan menyerang hepatopankreas, merusak sel-sel pembawa enzim pencernaan dan penyimpan nutrisi.

Kondisi air yang mendukung perkembangan bakteri ini meliputi salinitas rendah (5-15 ppt), suhu air 28-32 derajat Celcius, dan kandungan organik terlarut yang tinggi. Kolam dengan history pemupukan pupuk organik berlebih atau sisa pakan menumpuk di dasar menjadi tempat berkembang biak ideal bagi strain patogen ini.

Berbeda dengan penyakit EHP yang disebabkan mikrosporidia dan menyerang sel epitel usus secara fisik, TDSD merusak jaringan dari dalam melalui produksi enzim proteolitik dan toksin. Kedua penyakit ini bisa terjadi bersamaan (ko-infeksi), memperparah kondisi udang secara sinergis.

Fase Rawan TDSD: Post-Larva Sampai Juvenile Awal

TDSD paling sering muncul pada fase post-larva (PL) hingga juvenile awal, tepatnya antara hari ke-7 hingga ke-30 setelah tebar. Pada fase ini, sistem imun udang masih berkembang dan hepatopankreas belum berfungsi sepenuhnya seperti pada udang dewasa.

Angka kematian akibat TDSD berkisar 60-90% jika tidak ada intervensi. Kematian massal biasanya terjadi dalam rentang 3-7 hari setelah gejala pertama muncul. laju kematian paling tinggi terjadi pada PL 10-15 dan menurun sedikit setelah udang memasuki fase juvenile menengah.

Penyebab kerentanan fase ini adalah kombinasi tiga faktor. Pertama, immunosure immature: sistem imun innate udang post-larva masih dalam tahap pengembangan, khususnya kemampuan hemocyt pada fagositosis bakteri. Kedua, hepatopankreas kecil: organ ini proporsinya belum cukup besar untuk menopang metabolisme penuh, sehingga kerusakanmeskipunkecil pun berdampak signifikan. Ketiga, kepadatan tebar tinggi: fase nursery biasanya dilakukan dengan kepadatan 300-500 ekor per meter kubik, memudahkan transfer bakteri antar individu.

Target survival rate di fase PL seharusnya 80-90%. TDSD bisa menurunkan angka ini menjadi 10-40% dalam waktu satu minggu jika patogen berkembang biak tak terkendali.

Pencegahan TDSD: Biosekuriti, Kualitas Air, dan Probiotik

Pencegahan TDSD mengandalkan tiga pilar utama: biosekuriti ketat, pengelolaan kualitas air, dansuplai probiotik kompetitif.

Pilar pertama: biosekuriti. Pastikan benur yang ditebar bebas kontaminasi V. parahaemolyticus vhvp-2. Minta sertifikat health status dari supplier benur dan lakukan Tes PCR atau kultur bakteri pada sampel benur sebelum pembelian massal. Kolam yang akan digunakan untuk fase nursery harus melalui proses pengeringan, kapur,dan bioremediasi untuk mengurangi beban bakteri Vibrio di sediment.

Pilar kedua: kualitas air. Pertahankan salinitas di atas 15 ppt jika memungkinkan, karena strain vhvp-2 paling virulen pada salinitas rendah. Suhu ideal 28-30 derajat Celcius. DO minimal 4 mg/L. Amonia bebas di bawah 0,5 mg/L. KH 80-120 ppm untuk stabilitas pH. Periksa parameter air minimal dua kali sehari, pagi dan sore.

Pilar ketiga: probiotik kompetitif. Aplikasikan probiotik Bacillus spp. secara rutin mulai 3 hari sebelum tebar benur. Dosis awal 1 ppm (1 gram per meter kubik air), kemudian berikan setiap 3-5 hari sekali dengan dosis 0,5 ppm. Probiotik bekerja dengan cara berkompetisi menempel pada epitel usus dan menghabiskan nutrisi yang biasa dimanfaatkan bakteri patogen.

Selain probiotik, suplementasi prebiotik mannano-oligosakarida (MOS) dosis 0,1-0,2 gram per kilogram pakan telah terbukti dalam penelitian mengurangi kolonisasi V. parahaemolyticus di usus udang hingga 60%. MOS bekerja dengan menyamar sebagai reseptor ikatan bakteri, sehingga Vibrio menempel pada MOS alih-alih dinding usus.

penyakit tdsd udang vaname gejala dini pencegahan
Gejala TDSD terlihat dari tubuh udang yang pucat dan transparan, berbeda dengan White Feces Syndrome yang menampilkan feses putih mengambang.

Jika TDSD sudah terlanjur muncul di kolam, isolasi kolam tersebut dan hentikan pemberian pakan selama 12-24 jam untuk mengurangi beban organik. Lakukan water exchange 30% dengan air yang sudah diolah probiotik. Pertimbangkan penggunaan probiotik terapeutik dosis tinggi (2 ppm) selama 5-7 hari berturut-turut. Antibiotik konvensional jarang efektif karena strain vhvp-2 menunjukkan resistensi tinggi terhadap oksitetrasiklin dan oksasinolin.

Pantau perkembangan setiap 2 hari setelah intervensi dimulai. Jika dalam 7 hari tidak ada penurunan kasus baru dan nafsu makan mulai pulih, intervensi bisa dikatakan berhasil. Jika mortality masih di atas 5% per hari setelah 7 hari, pertimbangkan untuk melakukan harvest dini sebelum kerugian meluas ke kolam tetangga.

Share your love
Pakan Pabrik
Pakan Pabrik

Pakanpabrik.com hadir guna memenuhi kebutuhan informasi seputar pakan ternak [unggas, akuakultur, swine, ruminansia dan petfood].
Dengan segmen yang sangat khusus dan spesifik, pakanpabrik.com menyajikan serba-serbi industri pakan ternak dan hewan kesayangan Anda.

Articles: 680