Seratus ekor bebek petelur pada produksi 70 persen menghasilkan sekitar 2.100 butir telur per bulan. Dengan harga Rp2.000 per butir, omzet kotor mencapai Rp4,2 juta, dan setelah dipotong biaya pakan plus operasional, sisa bersihnya sekitar Rp1,5 sampai Rp2 juta.
Keuntungan bebek petelur skala 100 ekor bukan gaji besar, tetapi arus kas bulanan yang stabil jika produksi terjaga. Kuncinya ada pada dua angka, tingkat produksi harian dan harga pakan per kilogram. Keduanya menentukan untung atau impas.
Jawaban Singkat: Berapa Untung 100 Ekor per Bulan
Pada produksi 70 persen, 100 ekor menghasilkan 70 butir per hari atau 2.100 butir per bulan. Omzet kotor Rp4,2 juta dengan harga Rp2.000 per butir.
Biaya pakan sekitar Rp3,1 juta per bulan untuk konsumsi 450 kilogram. Tambah vitamin, listrik, dan penyusutan kandang sekitar Rp300 ribu. Total biaya Rp3,4 juta.
Margin bersihnya sekitar Rp800 ribu sampai Rp1,5 juta pada kondisi normal. Pada produksi 75 sampai 80 persen dengan harga telur Rp2.200, margin naik ke Rp2 sampai Rp2,5 juta. Angka ini setara UMR kota kecil dari usaha sampingan di belakang rumah.
Catatan pentingnya satu. Tiga bulan pertama belum ada telur karena bebek dara umur 4 bulan baru bertelur umur 5 sampai 6 bulan. Gaji bulanan mulai mengalir bulan keempat, bukan bulan pertama.
Modal Awal: Bibit, Kandang, dan Operasional Pertama
Bibit bebek dara umur 4 bulan seharga Rp65 ribu sampai Rp85 ribu per ekor. Untuk 100 ekor, siapkan Rp6,5 sampai Rp8,5 juta. Bibit dara lebih mahal daripada DOD, tetapi menghemat 4 bulan biaya pakan pembesaran.
Kandang panggung sederhana ukuran 4 x 8 meter menelan Rp2 sampai Rp3 juta. Bahan bambu dan kayu bekas menekan biaya, yang penting lantai kering, atap tidak bocor, dan sirkulasi udara lancar.
Cadangan pakan dan operasional 2 bulan pertama sekitar Rp2 sampai Rp2,5 juta. Total modal ternak bebek 100 ekor jatuh pada Rp10 sampai Rp13 juta. Siapkan 10 persen dana darurat untuk vitamin dan pengobatan mendadak.
Jangan memangkas modal bibit dengan membeli bebek afkir murah. Bebek afkir Rp30 ribu per ekor terlihat hemat, tetapi produksinya 30 sampai 40 persen dan tidak pernah naik. Rugi pakan tiap bulan lebih besar daripada selisih harga bibit.

Biaya Bulanan: Pakan Mendominasi 70 Persen
Satu ekor bebek petelur makan 140 sampai 160 gram per hari. Untuk 100 ekor, kebutuhan pakan 14 sampai 16 kilogram per hari atau sekitar 450 kilogram per bulan.
Harga pakan layer komplit Rp6.800 sampai Rp7.200 per kilogram. Biaya pakan bulanan Rp3 sampai Rp3,2 juta, sekitar 70 sampai 75 persen dari total biaya. Inilah nyawa usaha, naik Rp500 per kilogram berarti tambah Rp225 ribu per bulan.
Biaya lain relatif kecil. Vitamin dan suplemen Rp100 ribu, listrik dan air Rp50 ribu, penyusutan kandang dan peralatan Rp100 ribu, cadangan obat Rp50 ribu. Total non-pakan sekitar Rp300 ribu per bulan.
Campuran pakan sendiri dengan dedak, jagung, dan konsentrat bisa menekan biaya 10 sampai 15 persen. Syaratnya protein campuran tetap 17 sampai 19 persen. Pakan campuran yang proteinnya melorot ke 14 persen menurunkan produksi 10 sampai 20 persen, penghematan berubah menjadi kerugian.
Simulasi 3 Skenario: Bagus, Normal, dan Buruk
Skenario bagus, produksi 78 persen. Telur 2.340 butir, omzet Rp5,1 juta dengan harga Rp2.200. Biaya total Rp3,4 juta, margin bersih Rp1,7 juta.
Ini kondisi bebek umur 8 sampai 14 bulan dengan pakan tepat.
Skenario normal, produksi 65 persen. Telur 1.950 butir, omzet Rp3,9 juta dengan harga Rp2.000. Biaya total Rp3,4 juta, margin keuntungan sekitar Rp500 ribu.
Usaha jalan, tetapi belum memberi gaji layak.
Skenario buruk, produksi 50 persen. Telur 1.500 butir, omzet Rp3 juta. Biaya tetap Rp3,4 juta, rugi Rp400 ribu per bulan.
Penyebabnya biasanya bebek tua di atas 20 bulan, pakan protein rendah, atau serangan penyakit pernapasan.
Selisih skenario bagus dan buruk mencapai Rp2,1 juta per bulan dari populasi yang sama. Pembeda utamanya bukan jumlah bebek, melainkan umur produktif, kualitas pakan, dan kecepatan menangani penyakit.
Kapan Balik Modal dan Kapan Harus Berhenti
Balik modal tercapai pada bulan ke-6 sampai ke-8 produksi dengan skenario normal ke bagus. Modal Rp12 juta dibagi margin Rp1,5 juta per bulan menghasilkan 8 bulan. Produksi puncak mempercepat, produksi rendah memperlambat.
Titik berhenti memakai aturan dua bulan. Jika rugi dua bulan beruntun walau pakan dan pengobatan sudah dibenahi, afkir dan evaluasi. Bertahan bulan ketiga dengan harapan naik sendiri menghabiskan Rp3 juta lagi tanpa jaminan.
Hitung biaya pakan per butir setiap minggu. Rumusnya konsumsi harian dikali harga pakan dibagi jumlah telur hari itu. Kalau angka ini melampaui 85 persen harga jual selama dua minggu, siapkan keputusan afkir.
Konsultasikan ke mantri hewan atau penyuluh setempat jika penurunan mendadak tanpa sebab jelas, karena wabah menular menuntut tindakan cepat, bukan sekadar hitung margin.
Prinsip akhirnya sederhana. Seratus ekor memberi gaji layak jika produksi di atas 65 persen dan pakan terkendali. Di bawah itu, kandang menjadi beban.
Angka harian tidak berbohong, catat dan patuhi.







