Saluran pencernaan pada hewan memiliki peranan penting terhadap kesehatan tubuh secara keseluruhan, tak terkecuali pada hewan krustasea seperti udang vaname. Dalam budidaya udang, permasalahan pada saluran pencernaan bisa berdampak buruk terhadap kesehatan udang, dan bahkan bisa menyebabkan kematian. Menurut pakar kesehatan udang dari IPB University, Julie Ekasari, penyakit-penyakit pada udang seperti EHP, WFD, bahkan AHPND muncul karena adanya permasalahan pada saluran pencernaan. Terutama pada organ hepatopankreas.
Selain itu, proses pencernaan dan penyerapan yang tidak optimal juga bisa berdampak pada konversi pakan yang tidak efisien dan berujung pada biaya yang lebih tinggi.
Proses pencernaan dan penyerapan nutrisi pada udang sebagian besar (sekitar 70 persen) terjadi pada hepatopankreas. Proses ini dilakukan pada ratusan hingga ribuan tubulus yang tersusun oleh beragam jenis sel yang mampu melakukan proses pencernaan dan penyerapan nutrisi. Selain hepato, proses pencernaan dan penyerapan nutrisi juga terjadi pada usus. Hal ini berbeda dengan proses pencernaan pada hewan tingkat tinggi yang melibatkan lebih banyak organ pencernaan.

Di sisi lain, seperti halnya permukaan tubuh, organ pencernaan terutama hepatopankreas merupakan bagian dalam tubuh yang berhubungan langsung dengan lingkungan. Sehingga peluang bersentuhan langsung dengan patogen-patogen penyebab penyakit sangat besar.
Pada AHPND misalnya, bakteri Vibrio parahaemolyticus menyasar hepato sebagai target utama. Akibat serangan itu, hepato bisa mengalami penyusutan dan tidak dapat menyerap nutrien dari pakan dengan baik. “Sehingga tidak heran jika terjadi masalah pada hepato, maka ini bisa menjadi fatal,” ujar Julie dalam webinar Bincang Udang yang diadakan Minapoli dan Elanco beberapa waktu lalu.
Dalam webinar tersebut, Julie menyampaikan beberapa faktor yang bisa membuat sistem pencernaan terganggu. Menghindari faktor-faktor tersebut bisa menjadi strategi petambak untuk menjaga kesehatan pencernaan udang.
Faktor-faktor yang bisa membuat hepato dan usus tak sehat antara lain zat anti-nutrisi yang terkandung dalam pakan, kondisi lingkungan seperti perubahan salinitas yang signifikan, microbiome yang tidak seimbang, hingga penyakit udang itu sendiri.
Zat anti-nutrisi pada pakan
Meski penggunaan bahan baku protein nabati terus digalakkan sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan tepung ikan, tetapi kandungan zat anti-nutrisi yang terkandung dalam bahan baku nabati seperti tepung kedelai (soybean meal) perlu tetap dicermati. Dalam banyak penelitian yang ditelaah Julie, penggunaan tepung kedelai yang berlebih dapat menyebabkan penurunan jumlah tubulus pada hepato. Sehingga sel-sel yang berperan dalam proses pencernaan dan penyerapan nutrisi pun jadi berkurang.
“Kalo ini berjalan dalam waktu lama, udang bisa gak tumbuh dan bisa menyebabkan kematian,” ungkap Julie.
Sementara di bagian usus, peningkatan penggunaan bahan baku tepung kedelai pada pakan dapat menyebabkan kerusakan pada vili susu dan penurunan aktivitas sekresi enzim-enzim pencernaan (protease, amilase, dan lipase). Tetapi, sambung Julie, efek negatif dari tepung kedelai bisa diperbaiki melalui proses fermentasi terlebih dulu.
Kondisi lingkungan
Selain dipengaruhi oleh zat anti-nutrisi, kesehatan sistem pencernaan juga dipengaruhi oleh perubahan lingkungan yang signifikan, salah satunya salinitas. Perubahan salinitas hingga 3 ppt dapat menurunkan jumlah restorative cell pada tubulus yang berperan dalam penyerapan nutrien.
“Kemudian keberadaan xenobiotik (zat asing hewan) seperti logam berat, nanoplastik, dan lain-lain, juga bisa menimbulkan dampak negatif bagi saluran pencernaan,” tambah Julie.
Keseimbangan microbiome dan penyakit
Faktor selanjutnya yang dapat mempengaruhi kesehatan hepatopankreas adalah keseimbangan microbiome. Microbiome merupakan seluruh mikroorganisme seperti bakteri, fungi, virus, beserta material genetiknya, yang secara alami menghuni saluran pencernaan. Saluran pencernaan yang sehat cenderung mengandung microbiome yang stabil baik jumlah jenis mikroorganisme maupun komposisinya.
Tetapi kata Julie, “Microbiome bisa berubah, karena sifatnya dinamis. Saat terjadi perubahan lingkungan yang signifikan, microbiome bisa berubah signifikan juga. Ini yang dinamakan dysbiosis.”
Perubahan komposisi mikroflora (semua mikroorganisme penghuni tubuh/organ tertentu) di dalam sistem pencernaan bisa disebabkan oleh beberapa hal. Seperti halnya pada perubahan jumlah tubulus, perubahan keseimbangan mikroflora pada hepatopankreas juga dapat disebabkan oleh zat anti-nutrisi pada pakan. Dan bisa juga disebabkan oleh toksin yang masuk ke dalam pakan. Selain itu, perubahan lingkungan terutama komposisi mikroorganismenya, juga berpengaruh terhadap keseimbangan mikroflora.
Karena berkaitan dengan mikroorganisme, keseimbangan mikroflora dengan penyakit saling mempengaruhi status kesehatan sistem pencernaan. Misalnya ketika udang terkena AHPND, maka akan ada perubahan dominasi mikroorganisme di dalam sistem pencernaan udang. Begitupun pada penyakit lain seperti WFD.
Berdasarkan pengamatan Julie, “Ketika udang sakit WFD diinjeksi dengan mikroflora dari usus udang yang sehat, udang yang terkena WFD ini bisa sembuh. Ini artinya kita bisa mengembalikan komposisi mikroflora usus yang alami dysbiosis dengan mengintroduksi bakteri baik dari luar.”Untuk mengoptimalkan keseimbangan mikroorganisme di dalam saluran pencernaan, Julie menyarankan penambahan sinbiotik (probiotik dan prebiotik) sebagai suplemen. Sementara untuk meningkatkan tingkat kecernaan pakan, ia merekomendasikan penambahan asam organik. Selain itu, sinbiotik dan asam organik juga bisa memperbaiki kerusakan sel-sel pada usus dan hepatopankreas. AB







