Keberhasilan budidaya udang di tambak tak lepas dari peran penting kualitas benur. Untuk mendukung kesuksesan petambak di lapangan, perusahaan broodstock terus melakukan perbaikan genetik pada induk udang. Selain perbaikan terus menerus pada aspek pertumbuhan, belakangan hadir juga udang vannamei dengan keunggulan pada aspek pertahanan tubuhnya (high survival).
Menurut Ketua Forum Komunikasi Pembenih Udang Indonesia (FKPUI) Waiso, saat ini sudah ada beberapa jenis udang unggul seperti fast growth, balancing line, specific resistant, dan extrem line. Namun demikian, secara garis besar Waiso membaginya kedalam dua kelompok. Yakni udang dengan keunggulan genetik fast growth dan high survival.
Secara umum, udang dengan genetik fast growth, yang umum digunakan petambak saat ini, memiliki keunggulan dalam hal pertumbuhan, namun rata-rata dalam ketahanannya. Sebaliknya, udang high survival, yang relatif baru dikembangkan, unggul dalam hal ketahanan, tetapi rata-rata dalam pertumbuhannya.

Selain perbedaan yang utama tersebut, kedua jenis udang tersebut juga memiliki perbedaan karakteristik lainnya dengan keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Perbedaan ini, kata Waiso, penting untuk diketahui oleh para petambak agar tidak salah memilih benur.
1. Kanibalisme
Perbedaan karakter pertama antara benur fast growth dan high survival adalah tingkat kanibalismenya. Menurut Waiso, benur dengan pertumbuhan cepat dirancang untuk makan secara terus menerus. Sehingga udang menjadi cenderung kanibal, apalagi jika ada udang mati di sekitarnya.
Sifat kanibalisme ini bisa sangat merugikan jika udang sehat memakan udang lain yang sudah mati karena penyakit. Hal ini bisa mempercepat penyebaran penyakit di dalam kolam. Sebab menurut Waiso, satu udang yang mati bisa dimakan oleh sepuluh udang lainnya. Dan patogen di dalam satu udang yang mati bisa berpindah ke sepuluh udang yang kanibal secara mudah. “Udang yang sepuluh otomatis sakit kan, dan bisa dimakan lagi oleh seratus udang lain,” ujar Waiso saat menjadi pembicara di musyawarah daerah SCI (Shrimp Club Indonesia) Jawa Barat-Banten, yang ditayangkan di chanel YouTube Agristream TV.
Oleh sebab itu, pembudidaya pengguna benur fast growth perlu menyesuaikan SOP budidaya agar sifat kanibalisme tersebut bisa ditekan. Salah satunya dengan cara pengurangan padat tebar. Sementara pada udang high survival, genetiknya tidak dirancang untuk makan terus menerus sehingga kecenderungan kanibalismenya lebih rendah.
2. Pola Makan
Perbedaan karakter lainnya antara udang fast growth dan high survival terletak pada kebiasaan makannya. Kebiasaan makan ini, pertama dipengaruhi oleh genetiknya itu sendiri. Jika udang fast growth dirancang untuk makan secara terus menerus, udang high survival justru memiliki kecepatan makan yang lambat. Sehingga menurut Waiso, kecepatan pertumbuhan yang rata-rata pada udang high survival dipengaruhi oleh karakter tersebut.
“Jadi petambak (pengguna high survival) harus pakai pakan yang water stability-nya tuh panjang. Kalau tidak, pakan nyemplung, habis. Tetapi udangnya kuntet, FCR-nya (feed conversion ratio) tinggi,” katanya.
Kebiasaan makan yang kedua dipengaruhi oleh waktu aktif udang. Udang fast growth lebih aktif pada siang hari, sementara udang high survival cenderung aktif pada malam hari atau nokturnal. Sehingga pemberian pakan pada udang fast growth optimal dilakukan pada siang hari. Sedangkan udang high survival optimal diberikan pada malam hari. Atau menurut Waiso, bisa juga pemberian pakan dilakukan siang hari selama kecerahan kolamnya sekitar 35 – 40 cm.
Perbedaan lain dalam manajemen pakan adalah penggunaan anco. Pada udang fast growth yang selama ini umum dipakai petambak, penghitungan jumlah pemberian pakan dilakukan berdasarkan evaluasi pakan dalam anco. Tetapi untuk udang high survival, udang cenderung tidak mau masuk ke anco. Sehingga penggunaan anco tidak terlalu diharuskan ketika membesarkan udang high survival. Namun demikian, petambak perlu mencari tahu metode efektif lain yang bisa digunakan untuk mengevaluasi jumlah pemberian pakan pada udang high survival.
3. Respon Terhadap Arus Kincir
Perbedaan terakhir antara udang fast growth dan high survival adalah respon keduanya terhadap arus yang dihasilkan kincir di dalam kolam. Menurut Waiso, udang fast growth relatif tidak terganggu oleh arus yang dihasilkan kincir, terutama pada saat makan. Berbeda halnya dengan udang high survival yang cukup sensitif terhadap arus kincir. Namun demikian, hal ini bisa dimanfaatkan oleh petambak pengguna benur high survival untuk mengatur pola penggunaan kincir yang tepat, karena tidak perlu menyala selama 24 jam. “Makanya kalau (pengguna benur) high survival bisa ada efisiensi listrik hingga 30 persen,” ungkap Waiso.

Dalam acara tersebut, Waiso menekankan bahwa petambak perlu adaptif dengan perkembangan budidaya udang saat ini, baik spesifik pada genetik, maupun perkembangan teknologi budidaya secara umum. Menyoal hadirnya beragam jenis benur unggul, ia menyarankan sebaiknya petambak tidak sungkan untuk bertanya langsung kepada hatchery mengenai jenis benur yang akan digunakan. Sehingga petambak bisa membuat dan menjalankan SOP sesuai kebutuhan udang dan kondisi lingkungannya.
Menurutnya, baik udang fast growth maupun high survival sama-sama bisa menguntungkan dan sama-sama berisiko. Pemilihan udang yang akan digunakan bukan semata-mata mengikuti tren, melainkan sesuai dengan tujuan dan strategi menambak. Yang terpenting menurut Waiso adalah petambak bisa berhasil dan untung dengan udang vannamei jenis apapun. AB







