Manajemen Tambak Udang Padat Tebar Tinggi di Kolam Tanah

Modal kecil, untung besar. Demikian prinsip yang diterapkan Kevin Ariza, petambak muda di Jerowaru, Lombok Timur. Itulah mengapa di tengah maraknya penggunaan HDPE untuk kolam tambak, dirinya tetap bertahan menggunakan kolam tanah untuk tambaknya. Bukan tanpa alasan, menurut Kevin selain lebih ekonomis, mineral yang terkandung dalam tanah juga semakin memperkuat kualitas air kolamnya secara alami. ”Kalo kolamnya sudah kuat dengan banyaknya mineral yang terkandung di dalamnya, selanjutnya yang perlu ditanggulangi adalah air masuknya. Biasanya untuk treatment-nya dengan menggunakan kapur aktif,” jelasnya.

Mengelola 6 kolam aktif, Kevin meningkatkan padat tebar tambaknya  secara bertahap. Di ukuran kolam 3000 m2, Ia pernah tebar benur sebanyak 150 ekor/ m2, 200 ekor/ m2 dan belakangan sedang trial 300 ekor/ m2. Tentu saja untuk mencapai tahap ini Kevin tidak langsung berhasil. Ia mengisahkan pernah tebar 1,5 juta benur dan hanya panen 2 kuintal. “Tapi itulah bagian dari budidaya tambak udang yang harus dijadikan pembelajaran. Makanya saya tidak berhenti eksperimen gimana caranya bisa terus meningkatkan padat tebar dan budidaya tetap lancar,” ucap pria yang juga terjun langsung sebagai teknisi di kolamnya ini.

Pengaturan Pakan Udang dan Kualitas Air

Kevin mengakui, padat tebar tinggi juga beresiko tinggi terutama penyakit. Oleh karena itu dirinya menerapkan manajemen yang cukup ketat terutama dari sisi kualitas air dan manajemen pakan. Ia mulai dari mencukupi kebutuhan air budidaya dengan menyiapkan 5 kolam tandon. “Lebih baik menyiapkan air dahulu, karena lokasi tambak saya berada di pasang surut, bukan dekat laut lepas,” jelasnya. Kemudian untuk menjaga kualitas air kolam budidaya, Kevin memperbanyak bahan-bahan seperti mineral, tetes/ molase, dan bakteri. “Dosisnya saya naikkan hingga 30-40% untuk menjaga kualitas airnya,” jelas Kevin.

Lihat: Cara Merawat Air Tambak Udang Vaname

Setelah berhasil tebar di 200 ekor/m2 dengan risiko yang berhasil diminimalisir, saat ini Kevin menaikkan padat tebarnya ke 300 ekor/ m2. Nah disinilah menurut Kevin hal yang paling krusial, yaitu bagaimana menjaga udang sampai panen agar tidak ‘blantik’, alias beda ukuran. Ketidakseragaman ukuran udang ini yang harus diminimalisir. Menurut Kevin, kuncinya ada di manajemen pakan yang diberikan, harus di atas 70 % yang dimakan. “Jadi saya kasi makan lebih sering dengan dosis yang lebih sedikit. Misal 24 jam, pakan 240 kg. Jika biasanya kasi pakan 4 kali, berarti sekali kasi 60 kg. Nah ini  diubah, misal 1 jamnya 10 kg bisa lebih efisien. Jumlah sama tapi ritmenya dipersering disesuaikan dengan pertambahan kebutuhan pakan,” urai Kevin.

Pengaturan Pakan Udang dan Kualitas Air

Kevin mengakui, padat tebar tinggi juga beresiko tinggi terutama penyakit. Oleh karena itu dirinya menerapkan manajemen yang cukup ketat terutama dari sisi kualitas air dan manajemen pakan. Ia mulai dari mencukupi kebutuhan air budidaya dengan menyiapkan 5 kolam tandon. “Lebih baik menyiapkan air dahulu, karena lokasi tambak saya berada di pasang surut, bukan dekat laut lepas,” jelasnya. Kemudian untuk menjaga kualitas air kolam budidaya, Kevin memperbanyak bahan-bahan seperti mineral, tetes/ molase, dan bakteri. “Dosisnya saya naikkan hingga 30-40% untuk menjaga kualitas airnya,” jelas Kevin bioremediasi percepat masa kering kolam tambak.

Lihat: Cara Merawat Air Tambak Udang Vaname

Setelah berhasil tebar di 200 ekor/m2 dengan risiko yang berhasil diminimalisir, saat ini Kevin menaikkan padat tebarnya ke 300 ekor/ m2. Nah disinilah menurut Kevin hal yang paling krusial, yaitu bagaimana menjaga udang sampai panen agar tidak ‘blantik’, alias beda ukuran. Ketidakseragaman ukuran udang ini yang harus diminimalisir. Menurut Kevin, kuncinya ada di manajemen pakan yang diberikan, harus di atas 70 % yang dimakan. “Jadi saya kasi makan lebih sering dengan dosis yang lebih sedikit. Misal 24 jam, pakan 240 kg. Jika biasanya kasi pakan 4 kali, berarti sekali kasi 60 kg. Nah ini  diubah, misal 1 jamnya 10 kg bisa lebih efisien. Jumlah sama tapi ritmenya dipersering disesuaikan dengan pertambahan kebutuhan pakan,” urai Kevin.

Hal ini sudah Ia lakukan sejak awal budidaya hingga panen. Untuk memudahkan anak tambak melakukan pemberian pakan, Kevin menggunakan autofeeder saat memasuki pakan pelet. Apalagi diakui Kevin, dirinya menyukai pakan berprotein tinggi untuk optimalisasi kecernaan pakannya. Menurutnya, dengan pemberian pakan berjumlah sedikit tapi sering maka akan ada perbedaan dari segi waktu pencemaran air dengan pakan yang langsung diberikan banyak dalam suatu waktu.

Manajemen Kolam Tambak Udang: Padat Tebar Udang

Hal lain yang tidak kalah penting, Kevin juga selalu menjaga kebutuhan Dissolve Oxygen (DO)/  kelarutan oksigen dalam air dan alkalin. Untuk kebutuhan DO, Kevin mencukupinya dengan menempatkan kincir 1 HP per 180 m3 atau sekitar 16 kincir untuk 1 kolam sedangkan untuk parameter alkalin dijaga di minimal 120 ppm.

Share your love
Pakan Pabrik
Pakan Pabrik

Pakanpabrik.com hadir guna memenuhi kebutuhan informasi seputar pakan ternak [unggas, akuakultur, swine, ruminansia dan petfood].
Dengan segmen yang sangat khusus dan spesifik, pakanpabrik.com menyajikan serba-serbi industri pakan ternak dan hewan kesayangan Anda.

Articles: 494