Mengenal Antinutrisi Pakan

Bahan pakan berkualitas menjadi sebuah keniscayaan dalam formulasi pakan. Tentunya tujuan formulasi pakan akan tercapai apabila bahan yang digunakan adalah bahan-bahan berkualitas tinggi dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Kualitas bahan pakan sendiri tidak melulu soal kandungan yang dapat menunjang pertumbuhan ternak, namun secara alami ada zat yang disebut dengan antinutrisi dalam bahan pakan. Sebagai seorang formulator pakan, tentunya harus mempertimbangkan keberadaan zat ini dalam pakan yang hendak diformulasikan.

Mengutip dari laman sinauternak.com, zat antinutrisi ini secara umum tidak memberikan pengaruh keracunan secara langsung ke ternak, melainkan dapat mengakibatkan defisiensi nutrien atau dapat pula mengganggu fungsi dan pemanfaatan nutrien di dalam tubuh.

Metabolit Sekunder

Sebagian besar antinutrisi terbentuk dari hasil metabolisme sekunder tanaman. Di mana hasil metabolisme tanaman terbagi menjadi dua berdasarkan berat molekulnya, yakni dengan berat molekul kurang dari 100 dan lebih dari 100. Beberapa zat hasil metabolisme sekunder tanaman yang memiliki berat molekul kurang dari 100 adalah antosin, pigmen pirol, alkohol, sterol, terpen, asam-asam alifatik, fenol, ester dan eter. Sedangkan beberapa zat dengan berat lebih dari 100 yang dihasilkan dari metabolisme sekunder tanaman adalah selulosa, gum, resin, tanin dan lignin.

Sekresi metabolit sekunder dari dalam tubuh tanaman bervariasi, ada yang melalui pencucian dengan air hujan baik melalui daun ataupun kulit tanaman, penguapan dari daun, ekskresi eksudat pada akar tanaman, dan melalui jalan dekomposisi atau pembusukan bagian tanaman itu sendiri.

Jayanegara dkk (2019) menyebutkan beberapa komponen antinutrisi umum yang terdapat dalam bahan seperti tanin, saponin, inhibitor protease, lektin, alkaloid, asam oksalat, asam fitat, glukosinolat, asam amino bukan protein, nitrit, nitrat, gosipol, farbol ester, glukosinolat, dan glukosida sianogenik (sianogen).

Bersifat Racun

Pada prinsipnya, antinutrisi yang terdapat dalam tanaman sebagaimana diterangkan sinauternak.com memiliki sifat racun namun bukan racun. Fungsi utamanya adalah melindungi tanaman dari predator. Beberapa antinutrisi bahkan dapat menyebabkan kematian. Apabila zat antinutrisi ini terkonsumsi dapat mengganggu proses metabolisme, pencernaan dan penyerapan nutrisi pakan.

Diterangkan Jayanegara dkk. (2019) komponen antinutrisi berperan di dalam sistem perlindungan tanaman terhadap herbivora dan patogen, regulasi proses simbiosis, mengontrol germinasi biji, dan inhibisi kimia terhadap spesies tanaman kompetitor atau alelopati.

Sifat menghambat tersebut dapat terjadi pada proses pencernaan di mana reduksi makromolekul menjadi berbagai monomer melalui kerja enzim-enzim pencernaan terjadi. Hingga pada proses absorpsi yakni penyerapan nutrien khususnya dalam bentuk monomer di usus halus ternak.

Komponen antinutrisi yang bersifat toksik secara umum berada pada konsentrasi yang rendah dalam tanaman, yakni lebih rendah dari 2% bahan kering dan memiliki efek fisiologis negatif ketika diserap oleh tubuh. Masalah yang umum muncul seperti permasalahan neurologis, kegagalan reproduksi, goiter, bahkan hingga menyebabkan kematian. Contoh dari komponen antinutrisi yang bersifat toksik adalah alkaloid, glukosida sianogenik, asam amino toksik, dan saponin.

Dapat Dihilangkan

Sebelum diberikan ke ternak, bahan pakan yang memiliki kandungan antinutrisi harus terlebih dahulu diberikan perlakukan khusus agar tidak mencelakai ternak. Sebagaimana dijelaskan Yanuartono (2019) ada beberapa cara sederhana yang umum dilakukan oleh peternak seperti melakukan pencacahan, penjemuran dan pelayuan.

Masih dalam tulisan Yanuartono, proses pemotongan atau pencacahan mampu menurunkan kandungan tanin dalam pakan melalui peningkatan kontak tanin dengan oksidase fenolik tanaman sehingga terjadi proses oksidasi. Sementara untuk biji-bijian, antinutrisi dapat dihilangkan melalui metode fisik sederhana yakni penggilingan.

Asam sianida (HCN) yang ada secara alami pada umbi singkong dapat secara efektif dihilangkan dengan cara pencacahan yang dilanjutkan dengan penggilingan menjadi tepung. Dalam proses tersebut terjadi pemecahan atau perobekan sel sehingga terjadi kontak langsung antara antara linamarin dengan enzim linamarinase yang mengkatalisis pemecahan hidrolitik. Penurunan cyanogen dari proses tersebut dapat mencapai total 96-99 %.

Sementara untuk menurunkan kadar sianida dalam daun singkong dapat melalui proses pencacahan yang dilanjutkan penjemuran di bawah panas matahari. Tak hanya sianida, proses tersebut mampu secara efektif menurunkan kandungan tanin, asam fitat.

Sumber :

www.sinauternak.com

Jayanegara, Anuraga, Muhammad Ridla, Erika B. Laconi, Nahrowi. 2019. Komponen Antinutrisi pada Pakan. PT Penerbit IPB Press. Bogor.

Yanuartono , Alfarisa Nururrozi, Soedarmanto Indarjulianto, Hary Purnamaningsih, Slamet Raharjo. 2019. Metode Tradisional Pengolahan Bahan Pakan Untuk Menurunkan Kandungan Faktor Antinutrisi: Review Singkat. Jurnal Ilmu Ternak. UNPAD Press.

Share your love
Pakan Pabrik
Pakan Pabrik

Pakanpabrik.com hadir guna memenuhi kebutuhan informasi seputar pakan ternak [unggas, akuakultur, swine, ruminansia dan petfood].
Dengan segmen yang sangat khusus dan spesifik, pakanpabrik.com menyajikan serba-serbi industri pakan ternak dan hewan kesayangan Anda.

Articles: 541