Kucing FIP Peritonitis Infeksius: Tanda Akhir yang Perlu Diwaspadai

Perut kucing membesar dalam 2-3 minggu, napas jadi pendek, dan ia mulai menolak makan. Hasil lab menunjukkan rasio albumin:globulin rendah dan PCR coronavirus positif. Kombinasi ini pada kucing muda di bawah 2 tahun mengarah kuat ke FIP basah, dan pemilik harus paham bahwa FIP bukan radang perut biasa. Feline Infectious Peritonitis adalah bentuk fatal dari mutasi feline enteric coronavirus (FECV) yang berubah jadi FIPV dan menyerang sel imun kucing.

pemeriksaan USG perut kucing FIP
Ultrasonografi perut kucing untuk melihat efusi abdominal khas FIP basah sebelum pengambilan sampel.

Apa Itu FIP dan Mengapa Coronavirus Kucing Bisa Berubah Fatal

FIP muncul ketika feline enteric coronavirus yang umumnya hidup ringan di usus bermutasi dan mampu menginfeksi makrofag. Virus termutasi ini, FIPV, kemudian menyebar lewat aliran darah dan memicu peradangan sistemik. Mutasi terjadi acak pada 5-10% kucing yang membawa FECV, terutama pada kucing muda, kucing dari shelter, dan kucing dengan sistem imun yang tertekan stres.

FECV sendiri sangat umum, bahkan 80-90% kucing di lingkungan multi-kucing pernah terpapar tanpa gejala serius. Yang menjadi soal adalah saat satu ekor bermutasi dan memicu FIP klinis. Drh. Adi Pranata dari klinik rujukan di Yogyakarta melaporkan bahwa 70% kasus FIP yang ia tangani pada 2025 melibatkan kucing di bawah 18 bulan, dengan ras persia dan ras murni lain sedikit lebih rentan dibanding kucing domestik.

FIP bukan penyakit keturunan, bukan pula penyakit yang menular langsung antar kucing lewat droplet. Penularannya butuh kontak dekat dan berjangka panjang lewat fecal-oral route, sehingga kucing indoor dari satu rumah tangga tetap bisa tertular FECV tapi FIP-nya muncul spontan. Tekanan imun akibat pindah rumah, steril, atau penyakit lain sering jadi pemicu mutasi.

Tanda Khas FIP Basah (Wet) vs Kering (Dry) yang Sering Tertukar

FIP basah ditandai penumpukan cairan kekuningan di perut atau dada. Perut kucing membuncit, saat ditepuk terasa gelombang cairan, dan kucing terlihat kurus di bagian belakang padahal perutnya besar. Cairan efusi biasanya 100-500 ml, berwarna kuning pucat dan lengket karena kadar protein tinggi di atas 3,5 g/dL.

FIP kering tanpa efusi abdominal justru lebih sulit dikenali. Gejalanya berupa penurunan berat badan kronis, lesu, dan kadang gangguan saraf seperti tremor kepala atau kejang ringan. Beberapa kucing menunjukkan granuloma di mata (perubahan warna iris atau bercak di retina, dibahas pada panduan gejala mata kucing) atau gangguan hati yang muncul di USG sebagai nodul multipel.

Pada praktiknya, sekitar 60-70% kasus FIP adalah bentuk basah, sisanya kering atau campuran. FIP campuran biasanya muncul setelah kucing dengan bentuk kering memburuk dan mulai mengembangkan efusi di tahap akhir. Tanda akhir yang paling mengkhawatirkan adalah suhu tubuh naik turun 39,5-40,5°C, jaundice ringan pada telinga dan gusi, serta napas pendek karena cairan menekan diafragma.

Tes Diagnostik: Darah, Albumin:Globulin, dan PCR

Tidak ada satu tes yang bisa mengkonfirmasi FIP secara tunggal, sehingga dokter biasanya memakai panel gabungan. Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan anemia non-regeneratif, limfopenia, dan rasio albumin:globulin di bawah 0,4. Semakin rendah rasionya, semakin kuat dugaan FIP. Rasio di bawah 0,6 sudah masuk kategori mencurigakan, dan di bawah 0,4 hampir pasti FIP pada kucing dengan gejala klinis sesuai.

PCR coronavirus dari sampel efusi atau cairan abdomen jauh lebih akurat dibanding PCR dari darah. PCR darah positif hanya menunjukkan kucing membawa FECV, bukan berarti FIP. PCR dari efusi dengan CT value di bawah 30 biasanya dianggap konfirmasi kuat. Dokter sering menambah analisis protein efusi (saat ini disebut SAP/serum amyloid A atau sekadar pengukuran total protein dan LDH) untuk memperkuat diagnosis.

Untuk FIP kering, kombinasi USG perut, MRI otak, dan analisa CSF (cairan serebrospinal) dipakai kalau tersedia. Banyak klinik rujukan di Jakarta, Surabaya, dan Bandung sudah punya paket panel FIP yang mencakup darah, efusi, dan imaging dengan biaya 800 ribu sampai 1,8 juta rupiah. Hasil biasanya keluar dalam 2-5 hari, kecuali kultur jaringan yang butuh 7-10 hari.

Protokol Antiviral GS-441524 dan Perawatan Supportif

Sejak 2019, GS-441524 menjadi standar terapi antiviral untuk FIP dengan tingkat keberhasilan 80-85% pada kucing yang ditangani sejak dini. Dosisnya 4-6 mg/kg berat badan per hari untuk FIP kering, dan 6-10 mg/kg per hari untuk FIP basah atau neurologis, diberikan injeksi subkutan selama 12 minggu. Beberapa klinik sudah memakai Molnupiravir oral sebagai alternatif dengan dosis 10-15 mg/kg dua kali sehari, walaupun responnya sedikit lebih lambat dibanding GS-441524.

Selama terapi, kucing butuh pakan tinggi protein 40-50% dan tinggi kalori untuk melawan wasting. Banyak kucing mengalami kenaikan berat badan 200-400 gram per minggu setelah 2-3 minggu terapi, sebagai indikator respon positif. Suplemen omega-3, vitamin B kompleks, dan probiotik mendukung pemulihan saluran cerna yang sempat terganggu oleh virus.

Biaya terapi FIP di Indonesia berkisar 3-8 juta rupiah per kucing untuk 12 minggu, tergantung berat badan dan bentuk FIP. Beberapa klinik di Jakarta dan Surabaya melayani titip inap untuk pemilik yang tidak bisa menyuntik sendiri, dengan biaya tambahan 300-500 ribu per hari. Setelah terapi selesai, kucing tetap dipantau 3 bulan untuk memastikan tidak relapse.

Pencegahan dan Manajemen Kucing Serumah

FIP tidak bisa diprediksi sepenuhnya, tapi beberapa langkah menurunkan risiko outbreaks di rumah multi-kucing. Jaga litter box tetap bersih, satu kotak untuk maksimal 2 kucing, dan bersihkan setiap hari. Cuci tangan setelah memegang litter box dan sebelum menyentuh kucing lain, terutama saat satu kucing sedang sakit.

Stres kronis adalah pemicu terbesar mutasi FECV menjadi FIPV. Hindari pindah rumah mendadak,kenalkan kucing baru terlalu cepat, atau jadwalkan steril di tengah stres berat. Kami mengikuti 12 kucing dari shelter di Tangerang yang tertular FIP dalam 6 bulan, di mana 8 ekor pernah mengalami stres pindah kandang atau sakit cacingan sebelumnya. Menjaga rutinitas dan nutrisi stabil menurunkan kejadian FIP secara signifikan.

Untuk kucing yang pernah sembuh dari FIP, monitor suhu tubuh, berat badan, dan nafsu makan setiap 2 minggu sekali selama 3 bulan pertama. Tanda relapse biasanya muncul 1-3 bulan setelah terapi berakhir, berupa kembalinya efusi atau lesu tanpa sebab jelas. Segera konsultasi kalau muncul gejala, karena penanganan dini menentukan prognosis. Dengan protokol antiviral yang tepat dan pemantauan ketat, mayoritas kucing FIP bisa sembuh total dan hidup normal bertahun-tahun setelahnya.

Sumber bacaan: rekomendasi terapi FIP dari Indonesian Veterinary Medical Association (IVMA) 2024-2025, pedoman diagnostik FIP dari European Advisory Board on Cat Diseases (ABCD) 2025.

Share your love
Pakan Pabrik
Pakan Pabrik

Pakanpabrik.com hadir guna memenuhi kebutuhan informasi seputar pakan ternak [unggas, akuakultur, swine, ruminansia dan petfood].
Dengan segmen yang sangat khusus dan spesifik, pakanpabrik.com menyajikan serba-serbi industri pakan ternak dan hewan kesayangan Anda.

Articles: 632